Showing posts with label Trading Plan. Show all posts
Showing posts with label Trading Plan. Show all posts

Tuesday, October 4, 2016

Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan

Kalau anda sudah main saham beberapa waktu, mungkin anda sudah sadar bahwa kalau mau mendapatkan untung konsisten dari trading ataupun investasi saham, anda harus menyiapkan Trading Plan (rencana trading).

Main saham—investasi ataupun trading—tanpa trading plan adalah layaknya berlayar tanpa alat navigasi: kemungkinan amat sangat kecil anda tiba dengan selamat di tujuan. Jauh lebih besar kemungkinan kapal anda menerjang karang, tenggelam, dan anda dimakan hiu.

Tapi menasehati pemula main saham membuat trading plan adalah seperti menasehati seseorang yang baru mulai belajar membaca A, B, C, untuk menulis buku.

"Gimana mau nulis buku," protes anda. "Menulis satu kata saja belum becus."

Tepat sekali.

Sebelum seseorang mulai mencoba menulis buku, ia harus lebih dulu tahu abjad A sampai Z. Setelah itu ia harus belajar arti kata, lalu mulai belajar membaca. Dari membaca, ia akan belajar contoh-contoh cara menulis kalimat yang mudah dimengerti. Dengan mempelajari kalimat-kalimat ini, lambat-laun ia akan tahu bagaimana cara merangkai kata-kata menjadi kalimat yang indah.

Demikian juga dengan belajar main saham.

Sebelum seorang pemula mencoba membuat sendiri trading plan, jauh lebih masuk akal kalau ia belajar melaksanakan trading plan menguntungkan yang sudah disiapkan pemain saham yang lebih berpengalaman. Dengan mencontoh trading plan ini, si pemula lambat-laun akan tahu dasar-dasar trading plan yang menguntungkan.

Masalah berikutnya: belajar dari mana? Apa ada orang yang rela mengajarkan anda trading plan yang menguntungkan?

Cukup banyak buku berbahasa Inggris yang menjelaskan trading plan yang dipakai si penulis. Tapi masalahnya, penjelasan trading plan ini tidak mendetil. Kalaupun ada yang detil, trading plan tersebut belum tentu cocok untuk saham di Bursa Indonesia. 

Bagaimana dengan buku berbahasa Indonesia?

Sepengetahuan saya, sampai saat ini tidak ada buku bahasa Indonesia yang membahas Trading Plan dengan detil. 

Maka dari itu saya menghadirkan Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan.

Di konsultasi ini saya akan menjabarkan dasar-dasar membuat trading plan (berdasarkan ANALISA TEKNIKAL) yang lengkap mulai dari menentukan saham apa yang layak dibeli, menetapkan harga beli, menentukan titik cut-loss, menentukan kapan harus menjual, dan mengajarkan cara mengelola modal.

Anda hanya perlu melaksanakan Trading Plan tersebut.

(Trading Plan pada konsultasi ini sifatnya universal dan versatile sehingga bisa anda terapkan pada saham Indonesia ataupun saham di bursa Amerika Serikat ataupun bursa luar negeri lainnya.) 

Biaya konsultasi: Rp 12juta (Tidak menerima peserta baru sampai ada pemberitahuan lebih lanjut).

Jangka waktu konsultasi: 8 minggu 6 minggu.

Setiap minggu anda akan mendapatkan satu dari 4 Modul berikut: 

1. Beli Saham Apa dan Mengapa
2. Beli kapan dan di harga berapa
3. Cara menjual dan cara cut-loss
4. Manajemen Modal

Selama masa konsultasi, anda bebas berkonsultasi dan bertanya melalui email.



Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan ini:

1. Ditujukan untuk individu yang mau BELAJAR membuat dan melaksanakan trading plan dengan Analisa Teknikal.

2. Melatih anda untuk sabar dan konsisten dalam melaksanakan trading plan.

3. Tidak cocok untuk individu yang baru mau mulai main saham. Silahkan coba main saham dulu beberapa bulan lalu pertimbangkan apakah anda perlu ikut konsultasi ini.

4. Bukan untuk individu yang bermimpi cepat kaya tanpa usaha dan tanpa kerja keras.




Syarat & Ketentuan Untuk Ikut Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan:  

1. Anda sudah (pernah) bertransaksi (beli-jual) saham.

2. Anda sudah membaca pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula", "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli", "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham", "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal", "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)", "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula".

3. Anda memperkenalkan diri via email ke terusbelajarsaham@gmail.com, dengan (sedikit-dikitnya) informasi nama, usia, profesi, kota domisili, sudah berapa lama main saham, perusahaan broker yang anda pakai, bingkai waktu main saham (jangka panjang atau jangka pendek), apakah untung atau rugi selama ini, modal yang sudah dicemplungkan, dan informasi lain yang menurut anda penting untuk saya ketahui.

4. Saya berhak menolak layanan pada siapapun tanpa memberikan alasan apapun.




Disclaimer, Peringatan, dan Bantahan:

1. Konsultasi ini adalah layanan belajar membuat dan melaksanakan trading plan.

2. Walaupun saya yakin bahwa anda akan mendapatkan untung kalau anda melaksanakan trading plan yang diajarkan dengan konsisten, konsultasi ini TIDAK MENJAMIN keuntungan.

3. Semua transaksi saham beresiko rugi.

4. Semua keputusan anda dalam melakukan jual-beli saham adalah tanggung-jawab anda sendiri. Artinya, semua keuntungan yang didapat adalah hak anda; sebaliknya, semua kerugian yang anda derita adalah juga tanggung-jawab anda.

5. Saya dan blog Terus Belajar Saham TIDAK BERTANGGUNG JAWAB atas segala kerugian anda dalam bentuk apapun.




Pertanyaan Yang Mungkin Anda Tanyakan:  

Tanya: Modal main saham saya Rp 5 juta. Perlukah saya ikut konsultasi ini?
 
Jawab: Tidak.

Kalau modal anda hanya Rp 5 juta—atau bahkan kurang—tidak masuk akal menghabiskan semua modal anda untuk membayar biaya konsultasi ini.


Tanya: Kalau gitu, siapa yang sebaiknya ikut konsultasi ini?

Jawab: Menurut saya, anda patut mempertimbangkan ikut konsultasi ini kalau modal main saham anda MINIMUM 5x lipat dari biaya konsultasi ini. Artinya, kalau modal anda Rp 49 juta atau lebih, anda patut mempertimbangkan ikut konsultasi ini.

 
Tanya: Mengapa begitu?

Jawab: Kalau anda main saham dengan modal, misalkan Rp 50 juta, dan anda merugi 10% berarti anda rugi Rp 5 juta. Untuk pemula, rugi 10% adalah hal yang hampir pasti terjadi. Bahkan tidak sedikit pemula yang rugi 50% atau lebih.

Dengan ikut konsultasi ini anda akan tahu cara main saham yang benar dan bisa mencegah kerugian yang fatal.

Dengan kata lain, kalau dengan ikut konsultasi ini anda bisa mengurangi kerugian sebesar biaya konsultasi, konsultasi ini adalah investasi yang menguntungkan.

Tambahan lagi, kalau anda punya modal minimum 5x lipat dari biaya konsultasi, saya berkeyakinan tinggi bahwa dalam jangka panjang keuntungan yang anda dapatkan akan berlipat-lipat melebihi biaya konsultasi.

 
Tanya: Apakah setelah mengikuti konsultasi ini saya pasti untung?

Jawab: Seperti yang saya tulis di Disclaimer, Peringatan, dan Bantahan di atas: kalau anda menjalankan dengan konsisten Trading Plan yang diajarkan, saya yakin anda akan untung. Tapi saya tidak bisa menjamin.

 
Tanya: Kenapa tidak berani menjamin, Pak?

Jawab: Karena sukses atau tidaknya anda dalam belajar main saham—seperti belajar main gitar atau belajar main bulutangkis—tergantung usaha, latihan, dan kerja keras anda.

Saya bisa mengarahkan anda ke jalan yang benar, saya bisa mengajarkan, tapi anda yang harus melaksanakan.

Tanpa berlatih, berlatih, dan berlatih, tidak mungkin seseorang bisa memainkan alat musik dengan baik. Demikian juga dengan belajar saham.

Tambahan lagi, sukses atau gagal dalam bermain saham juga sangat tergantung kesabaran dan kekonsistenan anda dalam melaksanakan trading plan.

Nah, kalau anda menjamin bahwa anda akan berlatih, berlatih, berlatih, kerja keras, kerja keras, kerja keras, sabar, sabar, sabar, dan konsisten, konsisten, konsisten melaksanakan trading plan, saya berani menjamin anda akan untung.


Tanya: Kenapa jangka waktunya 8 minggu 6 minggu? Kenapa tidak mengirimkan sekaligus 4 Modul?

Jawab: Cara belajar yang baik dan efisien (menurut saya) adalah belajar step-by-step dan perlahan-lahan. Artinya, belajar modul berikutnya seharusnya dilakukan setelah anda memahami dengan baik modul sebelumnya.

Tambahan lagi: manfaat utama dari konsultasi ini adalah jasa "konsultasi"nya. Saya berikan waktu 8 minggu 6 minggu tidak hanya untuk mempelajari modul-modul yang diberikan tapi juga untuk BERTANYA dan berKONSULTASI tentang hal-hal yang kurang anda mengerti.


Tanya: Kok mahal, Pak?

Jawab: Saya akui, biaya konsultasi ini tidak murah.

Dan yang membuat mahal bukan hanya materi yang diberikan. Yang tidak kalah mahal adalah jasa KONSULTASInya karena saya harus meluangkan banyak WAKTU dan pikiran untuk mengerti kondisi anda, lalu mengarahkan anda ke arah yang benar.

Kalau dipandang dari sisi bahwa waktu luang saya tidak banyak dan saya harus meluangkan banyak waktu dan pikiran untuk konsultasi, saya merasa biaya yang saya kutip masih amat sangat murah.

Coba anda bandingkan dengan biaya seminar/pelatihan saham yang ditawarkan pihak-pihak lain yang menggembar-gemborkan diri sebagai "pakar": pakar analisa teknikal, pakar analisa fundamental, pakar candlestick, pakar option, pakar forex, pakar commodities, dan pakar-pakar lainnya baik dari dalam negeri ataupun luar negeri.

Anda diharuskan membayar sampai puluhan juta Rupiah untuk MENDENGAR ocehan mereka. (Seharusnya mereka yang mendengarkan masalah anda dan mencari solusi untuk anda.) Dan pelatihan/seminar mereka berikan secara masal (ke banyak peserta), bukan konsultasi secara pribadi, one-on-one.

Perhatikan juga bahwa jangka waktu seminar/pelatihan mereka hanya dalam hitungan beberapa jam atau beberapa hari. Setelah seminar berlalu, semangat anda mungkin menggebu-gebu, tapi sangat mungkin anda tetap saja tidak tahu harus mulai dari mana.


Tanya: Saya tertarik untuk ikut. Kapan ada diskon, Pak?

Jawab: Waktu adalah sumber daya yang tak terbarukan. Dengan berjalannya waktu berarti waktu saya di dunia ini semakin sedikit.

Nah, sesuai prinsip ekonomi, sumber daya yang makin sedikit berarti harganya akan makin mahal.

Dengan logika di atas, rencana saya adalah untuk menaikkan tarif konsultasi secara bertahap dengan berjalannya waktu. Artinya, alih-alih ada diskon, malahan tarif konsultasi ini akan semakin tinggi di masa depan.

Jadi kalau anda sudah ada NIAT untuk ikut konsultasi, sebaiknya anda lakukan sedini mungkin.

Tambahan lagi, semakin cepat anda belajar dan tahu dasar-dasar trading plan yang menguntungkan, semakin kecil biaya cut-loss yang anda derita kala anda mencoba-coba membuat trading plan sendiri. 

Kalau masih ada pertanyaan lainnya tentang jasa konsultasi ini, silahkan email saya di terusbelajarsaham@gmail.com.

    Arti Istilah "Trading Plan"

    Mungkin anda sering mendengar atau membaca nasehat bahwa dalam bertransaksi saham anda harus menyiapkan "trading plan."

    Apa sih yang dimaksud dengan "trading plan"?

    Nah, di pos ini saya akan membahas apa sebenarnya arti "trading plan," siapa saja yang harus menyiapkan "trading plan," mengapa harus menyiapkan "trading plan," dan mengapa mayoritas pemain saham tidak menyiapkan "trading plan."

    Mari kita mulai.


    Arti Trading Plan

    trading = beli-jual atau jual-beli
    plan = rencana

    Jadi, trading plan artinya adalah rencana beli-jual, atau lebih tepatnya rencana beli dan rencana jual.

    [Sebenarnya, yang lebih tepat adalah "rencana membuka posisi" dan "rencana menutup posisi."

    Mengapa?

    Karena di bursa tertentu, pemain saham bisa "membuka posisi" dengan menjual saham pinjaman (transaksi short-sell).

    Tapi karena mayoritas pemain saham Indonesia tidak bisa bertransaksi short-sell, maka dari itu di pos ini saya mengidentikkan "rencana membuka posisi" dengan "rencana beli" dan "rencana menutup posisi" dengan "rencana jual."]


    Siapa Yang Harus Menyiapkan Trading Plan

    Kalau anda membaca buku ataupun blog saham, biasanya "trading plan" diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai "rencana trading."

    Saya tidak suka terjemahan ini karena frase "rencana trading" bisa disalahtafsirkan seakan-akan hanya pemain saham jangka pendek (yang melakukan "trading") yang harus menyiapkan Trading Plan.

    Padahal, semua orang yang berharap mendapatkan untung dari saham harus menyiapkan Trading Plan.

    SEMUA orang.

    Tidak terkecuali apakah ia pemain saham jangkan pendek (trader) ataupun pemain saham jangka panjang (investor). Tidak peduli apakah tujuannya adalah spekulasi atau investasi. Tidak peduli apakah ia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, bermodal kecil atau besar, berpendidikan tinggi atau tidak. Pokoke, kalau berharap mau untung, HARUS menyiapkan Trading Plan.

    Dengan kata lain, anda TIDAK PATUT BERHARAP bisa konsisten untung dari saham kalau anda tidak menyiapkan Trading Plan.


    Mengapa Harus Menyiapkan Trading Plan

    Misalkan anda seorang pelaut dan ingin berlayar dari Jakarta menuju Pontianak. Apakah anda langsung naik ke kapal, menarik jangkar, dan langsung berangkat? Tanpa mengecek kondisi cuaca? Tanpa memeriksa apakah alat navigasi berfungsi dengan baik? Tanpa memeriksa kondisi dan ketersediaan alat keselamatan seperti sekoci dan pelampung?

    Tentu saja tidak. (Kecuali kalau anda memang tidak berniat sampai di tujuan dengan selamat.)

    Nah, Trading Plan adalah seperti persiapan yang dilakukan pelaut profesional sebelum berlayar.

    Sang pelaut akan mengecek laporan cuaca, apakah cuaca memungkinkan untuk berlayar dengan aman sampai tujuan. Ia juga akan memeriksa bahwa alat navigasi, apakah semuanya bekerja dengan baik. Tak lupa ia juga memastikan bahwa sekoci dan pelampung berkondisi baik, kalau-kalau alat-alat keselamatan tersebut diperlukan.

    Memang, perencanaan yang baik tidak menjamin si pelaut pasti akan tiba di tujuan dengan selamat. Tapi tanpa perencanaan sama sekali, kemungkinan sangat kecil si pelaut akan sampai di tujuan dengan selamat.

    Kalau pemikiran di atas kita terapkan pada Trading Plan bisa kita artikan bahwa menyiapkan Trading Plan TIDAK MENJAMIN anda pasti UNTUNG. Tapi tidak menyiapkan Trading Plan berarti HAMPIR PASTI anda akan BUNTUNG.


    Mengapa Mayoritas Pemain Saham Tidak Menyiapkan Trading Plan?

    Saya katakan di atas bahwa kalau anda berharap ingin mendapat untung dari saham, anda harus menyiapkan Trading Plan.

    Pertanyaannya: mengapa mayoritas pemain saham tidak menyiapkan Trading Plan?

    Apakah karena mereka tidak mau untung dan pengen rugi?

    Tentu saja tidak.

    Survei membuktikan bahwa semua orang terjun bermain saham karena berminat mendapatkan untung. Kalau gitu, mengapa mereka tidak menyiapkan Trading Plan?

    Menurut saya, ada beberapa alasan.

    Alasan pertama: tidak tahu cara membuat Trading Plan.

    Nah, menasehati pemula untuk menyiapkan Trading Plan adalah laksana menyuruh balita yang baru belajar membaca A, B, C, D, untuk menulis artikel untuk surat kabar.

    Bagaimana mungkin bisa menulis artikel padahal menulis satu kata saja belum bisa?

    Menulis artikel yang menarik dan enak dibaca bukanlah hal mudah, bahkan bagi individu yang bergelar sarjana dan sudah membaca-menulis bertahun-tahun.

    Demikian juga dengan Trading Plan. 

    Membuat Trading Plan bukanlah hal mudah, bahkan bagi individu yang sudah main saham bertahun-tahun. Apalagi bagi pemula.

    Jadi, menasehati pemula untuk menyiapkan Trading Plan tanpa menjelaskan caranya adalah nasehat yang baik tapi sama sekali tidak membantu. 

    Alasan kedua: tidak menyadari bahwa Trading Plan harus mencakup rencana beli dan rencana jual.

    Maksudnya?

    Hampir semua pemain saham mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk rencana beli. Mereka menganggap bahwa kalau sudah merencanakan beli dengan benar, keuntungan pasti diraih.

    Akibatnya, setelah membeli saham hampir semua pemain saham tidak tahu apa yang harus selanjutnya dilakukan. Di benak mereka, sekarang saatnya menunggu.

    Menunggu apa?

    Tunggu saham naik, kata mereka

    Kalau tidak naik?

    Tunggu sampai naik.

    Kalau turun?

    Ya tunggu naik.

    Kalau terus turun?

    Ya terus menunggu.

    Kalau setelah itu naik?

    Tunggu naik sampai mencapai harga beli.

    Kalau sudah mencapai harga beli?

    Tunggu naik sampai target keuntungan.

    Kalau sudah mencapai target keuntungan?

    Tunggu naik lebih tinggi lagi.

    Kalau sudah naik lebih tinggi?

    Tunggu naik LEBIH tinggi lagi.

    Kalau setelah itu turun?

    Kok masih nanya sih? Ya tunggu sampai naik lagi.

    Lho?

    Kalau bisa untung dari saham hanya dengan cara menunggu, bisa jadi tidak ada pemain saham yang rugi. Apakah semudah itu?

    Tentu saja tidak.

    Maka dari itu, ketika membuat Trading Plan jangan melulu memikirkan rencana beli saja. Curahkan juga waktu dan pikiran untuk memikirkan rencana jual.


    Oke, kata anda. Sekarang saya sadar bahwa Trading Plan sangat penting. Bagaimana cara membuatnya?

    Sebelum mulai membuat Trading Plan yang spesifik dan lengkap, anda perlu lebih dulu tahu langkah-langkah membuat rencana beli dan rencana jual. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Langkah-langkah Membuat Trading Plan." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]

      Karakteristik Trading Plan yang Menguntungkan, Bagian 1

      John J. Murphy di buku Technical Analysis of the Financial Market menulis bahwa pada tahun 1970 Dunn & Hargitt's Financial Services membandingan sistem trading (trading plan) dari sejumlah Commodity Trading Advisors (CTA) ternama.

      Riset tersebut menyimpulkan bahwa sistem trading yang paling menguntungkan (di antara semua sistem-sistem yang dibandingkan) adalah sistem buatan Richard Donchian yang ia namakan 4 Week Rule (Aturan 4 Minggu).

      Sistem trading (trading plan) 4-Week Rule bunyinya:

      1. Cover short positions and buy long whenever the price exceeds the highs of the four preceding full calendar weeks.

      2. Liquidate long positions and sell short whenever the price falls below the lows of the four preceding full calendar weeks.

      Dalam bahasa Indonesia:

      1. Tutup posisi short dan beli long ketika harga naik menembus  harga tertinggi 4 minggu penuh terakhir.

      2. Tutup posisi long dan jual short ketika harga turun di bawah harga terendah 4 minggu penuh terakhir.


      [Catatan: posisi long berarti memiliki komoditas/saham; posisi short berarti berhutang komoditas/saham. Jadi, jual short 100 lembar saham berarti menjual 100 lembar saham yang tidak anda miliki dengan cara meminjam dari broker. Saham pinjaman tersebut, suatu saat harus dikembalikan (ditutup) dengan cara membeli balik saham tersebut.]

      Perhatikan bahwa 4 Week Rule ini adalah sistem yang berkesinambungan. Artinya, sistem ini SELALU ada posisi di market: kalau tidak long, ya short; kalau tidak short, ya long.

      Sistem berkesinambungan ini ada "kelemahannya": saat harga sedang trend naik (atau turun), sistem ini akan memberikan untung yang besar; tapi saat harga sedang trendless (naik-turun dalam kisaran sempit), sistem ini akan merugi. 

      (Jika anda belum tahu arti istilah trendless, silahkan baca pos "Arti Istilah Saham Trending Trendless.")

      Mengapa hal tersebut adalah "kelemahan"?

      Karena kondisi trendless relatif lebih sering terjadi (kurang lebih 70%) dibandingkan kondisi trending naik atau turun (30%), berarti trading plan ini LEBIH SERING RUGI daripada untung.

      Tapi walaupun FREKUENSI RUGI LEBIH SERING, 4 Week Rule tetap memberikan profit dan terbukti lebih menguntungkan dibandingkan sistem-sistem trading lain yang lebih rumit.

      Kok bisa begitu?

      Karena walaupun LEBIH SERING RUGI, ruginya relatif kecil dibanding untungnya. Dengan kata lain, walaupun lebih jarang untung, kerugian-kerugian yang lebih sering terjadi bisa ditutupi keuntungan yang jarang ini. Hebatnya, keuntungan ini masih lebih besar dibandingkan sistem trading lain.

      "Wow," anda bersorak dalam hati. "Kalau gitu, saya mau deh memakai 4 Week Rule ini sebagai trading plan main saham saya."

      Boleh-boleh saja. Tapi anda tidak bisa serta-merta menerapkan 4 Week Rule ini apa adanya.

      Kenapa?

      Trading plan 4 Week Rule ini digunakan Richard Donchian untuk trading komoditas di mana menjual short sama mudahnya dengan membeli long. Karena menjual short (hampir) tidak bisa dilakukan di bursa saham Indonesia, trading plan 4 Week Rule di atas SULIT kita terapkan di bursa kita.

      Lho? Terus gimana dong?

      Artinya, untuk menerapkan trading plan 4 Week Rule anda harus memodifikasi dan menyesuaikannya untuk pasar saham Indonesia.

      Caranya?

      Sabar dong. Nanti akan saya jelaskan.

      Tapi sebelum mencoba menyesuaikan 4 Week Rule untuk trading saham Indonesia, anda harus terlebih dulu memahami karakteristik/ciri-ciri penting dari trading plan ini.

      Apa saja karakteristik penting dari 4 Week Rule Richard Donchian?


      1. Sederhana

      Coba anda baca ulang bunyi dari 4 Week Rule dan resapi.

      Sudah?

      Untuk menerapkan 4 Week Rule anda tidak perlu tahu analisa fundamental.

      Dengan kata lain, anda tidak perlu tahu Earnings, Earnings Per Share, Price-to-Earnings Ratio, Book Value, Price to Book Value, Assets, Liabilities, Growth Rate. Anda juga tidak perlu mempelajari laporan keuangan perusahan, tidak perlu mengikuti berita perusahaan, tidak perlu tahu apakah valuasi saham mahal atau murah.

      Penerapan 4 Week Rule juga tidak perlu pengetahuan analisa teknikal.

      Dengan kata lain, anda tidak perlu tahu Support/Resistance, tidak perlu tahu pola-pola grafik seperti Head-and-Shoulder, Double Top, Triple Top, Cup with Handle.

      Anda juga tidak perlu tahu indikator umum seperti Moving Average, Moving Average Convergence Divergence (MACD), Relative Strength Index (RSI), Stochastics, Bollinger Bands, Parabolic SAR (Stop and Reverse), Fibonacci, Candlestick, Elliot Wave Theory, Elder Ray, Market Profile, apalagi indikator-indikator lain yang lebih rumit.

      Anda bahkan tidak perlu tahu VOLUME transaksi.

      (Silahkan baca pos "Analisa Volume Transaksi Saham Untuk Pemula. Perlukah?")

      Jadi, apa yang perlu diketahui untuk menerapkan 4 Week Rule?

      Satu-satunya hal yang perlu anda ketahui hanyalah HARGA.

      HARGA dan hanya HARGA.

      (Silahkan baca juga pos "Analisa Teknikal Saham untuk Pemula.")
       

      2. Tidak perlu data dalam jumlah banyak

      Selain membutuhkan HANYA data harga, 4 Week Rule ini tidak perlu data harga dalam jumlah banyak: data harga yang diperlukan HANYA data 4 minggu terakhir.

      (Baca juga pos "Banyak Data = Pasti Untung?")


      Kedua karakteristik di atas sangat penting dipahami karena banyak pemain saham—terutama pemain saham pemula dan juga menengah—yang beranggapan bahwa trading plan harus menggunakan indikator serumit mungkin dan data sebanyak mungkin.

      Mereka menganggap bahwa kalau memakai 1 indikator belum bisa untung, berarti harus memakai 10 indikator; kalau memakai indikator yang sederhana belum bisa untung, berarti harus memakai indikator yang rumit.

      Mereka juga menganggap bahwa kalau memakai data harga 1 bulan terakhir belum bisa untung, berarti harus memakai data 1oo tahun terakhir; kalau memakai hanya data harga belum bisa untung, berarti harus menambah data volume.

      Intinya: banyak pemain saham beranggapan bahwa semakin rumit suatu trading plan berarti semakin bagus dan semakin menguntungkan.

      Nah, trading plan 4 Week Rule ini membuktikan sebaliknya: trading plan yang sederhana ini justru lebih menguntungkan dibandingkan trading plan yang lebih rumit.

      Jadi kalau trading plan anda rumit tapi hasilnya tidak memuaskan, saatnya anda meninjau ulang trading plan tersebut.

      INGAT: rumit tidak identik dengan untung.


      Sekarang anda sudah tahu 2 ciri-ciri penting dari 4 Week Rule. Apakah masih ada karakteristik/ciri-ciri penting lainnya dari 4 Week Rule ini? Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Karakteristik Trading Plan Yang Menguntungkan, Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]