Pilih mana:
1. Investasi saham jangka panjang (tahunan).
2. Investasi saham jangka bulanan.
3. Trading saham jangka mingguan.
4. Trading saham jangka harian.
5. Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan, ataupun trading jangka mingguan, harian. Yang penting untung.
Silahkan memilih dengan menulis komentar.
Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada minimal 25 orang memberikan pilihan.
Showing posts with label Pilih Mana. Show all posts
Showing posts with label Pilih Mana. Show all posts
Monday, August 1, 2016
Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 1
Di bulan Januari 2016 saya menyurvey pembaca blog ini dengan pertanyaan ini:
Pilih mana:
1. Belajar saham dari analis saham
2. Belajar saham dari manajer investasi
3. Belajar saham dari pembicara seminar saham
4. Belajar saham dari perencana keuangan
5. Belajar saham dari broker saham
6. Belajar saham dari pemain saham
Total 199 suara masuk (terima kasih untuk anda-anda yang meluangkan waktu memilih) dengan hasil sebagai berikut:
20% (40 suara) memilih belajar saham dari analis saham
6% (11 suara) memilih belajar saham dari manajer investasi
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari pembicara seminar saham
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari perencana keuangan
3% (6 suara) memilih belajar saham dari broker saham
68% (136 suara) memilih belajar saham dari pemain saham
Dari jawaban yang masuk, mayoritas (68%) memilih belajar saham dari pemain saham.
Saya setuju.
Ibaratnya kalau anda ingin belajar memancing/menangkap ikan, anda sebaiknya belajar dari nelayan (penangkap ikan profesional).
Jadi, kalau anda ingin belajar main saham, anda sebaiknya belajar dari pemain saham profesional yang profesinya (dan penghasilan utamanya) adalah dari bermain saham.
Tapi, ada 2 masalah yang harus anda lalui kalau anda memilih belajar saham dari pemain saham.
Masalah apa, bung Iyan? tanya anda.
Pertama, banyak penjual buku/software dan penjual seminar yang menggembar-gemborkan dirinya sebagai pemain saham sukses dengan tujuan agar anda rela membayar mahal untuk ikut seminar yang mereka selenggarakan.
Dengan kata lain, anda harus pandai-pandai membedakan pemain saham profesional sungguhan dengan pembicara seminar berkedok pemain saham yang menjanjikan akan mengajarkan cara cepat kaya dari main saham padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang ingin memangsa anda dan uang anda.
Kedua, kalaupun anda bisa menemukan pemain saham profesional sungguhan, belum tentu ia punya waktu luang mengajarkan anda cara bermain saham yang benar. Kalaupun ia punya waktu luang, belum tentu ia berminat mengajarkan anda cara bermain saham yang benar.
Coba anda pikirkan: apa untungnya (si pemain saham profesional) membagikan rahasia dapur cara bermain saham kepada anda?
Artinya, kalau anda menemukan pemain saham profesional sungguhan, jangan malu membujuk, merayu, memohon—bahkan kalau perlu, sungkem—agar ia bersedia mengajari anda cara bermain saham yang benar.
Malu bertanya, sesat di jalan.
Malu membujuk, merayu, memohon, ya gak bakal diajarin.
Sudah malu-maluin membujuk, merayu, memohon, bahkan sungkem aja pun belum tentu anda akan diajarin.
[Catatan: mohon jangan membujuk, merayu, memohon saya untuk mengajari anda privat cara bermain saham. Silahkan belajar dengan membaca "Kurikulum" blog ini. Dan kalau bersikeras ingin layanan privat, silahkan baca halaman "Konsultasi."]
Tapi bung Iyan, gimana kalau saya tidak menemukan pemain saham yang mau ngajarin saya?
Kalau anda RELA membayar mahal (bayaran ini tidak harus dalam bentuk uang), saya yakin pasti ada pemain saham yang bersedia mengajar anda. Tapi kalau anda tidak mau membayar apalagi membayar mahal, alternatifnya adalah anda belajar (secara tidak langsung) dari tulisan (blog, buku) pemain saham profesional. (Pastikan bahwa blog/buku yang anda baca bukanlah kedok untuk menjual seminar.)
Tapi saya mau belajar langsung dari seseorang secara langsung, kata anda.
Nah, ini dia. Tidak mau bayar tapi mintanya banyak.
Nah, kalau anda ingin belajar langsung tapi tidak menemukan pemain saham yang mau mengajari anda, alternatif terbaik adalah belajar dari . . .
Analis saham?
Bukan, bukan belajar dari analis saham (yang dipilih 20% penjawab, suara kedua terbanyak) tapi dari . . .
Ingin tahu jawabannya? Silahkan lanjut baca ke pos "Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]
Pos-pos yang berhubungan:
Pilih mana:
1. Belajar saham dari analis saham
2. Belajar saham dari manajer investasi
3. Belajar saham dari pembicara seminar saham
4. Belajar saham dari perencana keuangan
5. Belajar saham dari broker saham
6. Belajar saham dari pemain saham
Total 199 suara masuk (terima kasih untuk anda-anda yang meluangkan waktu memilih) dengan hasil sebagai berikut:
20% (40 suara) memilih belajar saham dari analis saham
6% (11 suara) memilih belajar saham dari manajer investasi
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari pembicara seminar saham
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari perencana keuangan
3% (6 suara) memilih belajar saham dari broker saham
68% (136 suara) memilih belajar saham dari pemain saham
Dari jawaban yang masuk, mayoritas (68%) memilih belajar saham dari pemain saham.
Saya setuju.
Ibaratnya kalau anda ingin belajar memancing/menangkap ikan, anda sebaiknya belajar dari nelayan (penangkap ikan profesional).
Jadi, kalau anda ingin belajar main saham, anda sebaiknya belajar dari pemain saham profesional yang profesinya (dan penghasilan utamanya) adalah dari bermain saham.
Tapi, ada 2 masalah yang harus anda lalui kalau anda memilih belajar saham dari pemain saham.
Masalah apa, bung Iyan? tanya anda.
Pertama, banyak penjual buku/software dan penjual seminar yang menggembar-gemborkan dirinya sebagai pemain saham sukses dengan tujuan agar anda rela membayar mahal untuk ikut seminar yang mereka selenggarakan.
Dengan kata lain, anda harus pandai-pandai membedakan pemain saham profesional sungguhan dengan pembicara seminar berkedok pemain saham yang menjanjikan akan mengajarkan cara cepat kaya dari main saham padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang ingin memangsa anda dan uang anda.
Kedua, kalaupun anda bisa menemukan pemain saham profesional sungguhan, belum tentu ia punya waktu luang mengajarkan anda cara bermain saham yang benar. Kalaupun ia punya waktu luang, belum tentu ia berminat mengajarkan anda cara bermain saham yang benar.
Coba anda pikirkan: apa untungnya (si pemain saham profesional) membagikan rahasia dapur cara bermain saham kepada anda?
Artinya, kalau anda menemukan pemain saham profesional sungguhan, jangan malu membujuk, merayu, memohon—bahkan kalau perlu, sungkem—agar ia bersedia mengajari anda cara bermain saham yang benar.
Malu bertanya, sesat di jalan.
Malu membujuk, merayu, memohon, ya gak bakal diajarin.
Sudah malu-maluin membujuk, merayu, memohon, bahkan sungkem aja pun belum tentu anda akan diajarin.
[Catatan: mohon jangan membujuk, merayu, memohon saya untuk mengajari anda privat cara bermain saham. Silahkan belajar dengan membaca "Kurikulum" blog ini. Dan kalau bersikeras ingin layanan privat, silahkan baca halaman "Konsultasi."]
Tapi bung Iyan, gimana kalau saya tidak menemukan pemain saham yang mau ngajarin saya?
Kalau anda RELA membayar mahal (bayaran ini tidak harus dalam bentuk uang), saya yakin pasti ada pemain saham yang bersedia mengajar anda. Tapi kalau anda tidak mau membayar apalagi membayar mahal, alternatifnya adalah anda belajar (secara tidak langsung) dari tulisan (blog, buku) pemain saham profesional. (Pastikan bahwa blog/buku yang anda baca bukanlah kedok untuk menjual seminar.)
Tapi saya mau belajar langsung dari seseorang secara langsung, kata anda.
Nah, ini dia. Tidak mau bayar tapi mintanya banyak.
Nah, kalau anda ingin belajar langsung tapi tidak menemukan pemain saham yang mau mengajari anda, alternatif terbaik adalah belajar dari . . .
Analis saham?
Bukan, bukan belajar dari analis saham (yang dipilih 20% penjawab, suara kedua terbanyak) tapi dari . . .
Ingin tahu jawabannya? Silahkan lanjut baca ke pos "Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]
Pos-pos yang berhubungan:
- Cara Terbaik Belajar Main Saham
- Belajar Main Saham dari Bahtera Nuh
Harga Saham Masih Naik. Beli, Jual, atau Bengong?
Sebelum membaca pos ini, ada baiknya anda baca dulu pos "Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?"
Misalkan saham AAPL selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran Rp 1.000 dengan harga paling tinggi Rp 1.050 dan harga paling rendah Rp 950.
Misalkan juga kemarin saham AAPL naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata. Dan hari ini saham AAPL masih lanjut naik dan beberapa saat sebelum market Close, harga AAPL bertahan di Rp 1.250.
Skenario I: Anda tidak punya saham AAPL
Pilih mana:
1. Beli langsung AAPL di 1.250.
2. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250. (Kalau tidak dapat hari ini, anda berencana akan antri beli lagi besok.)
3. Tidak antri beli karena anda khawatir AAPL sudah kemahalan dan harganya akan turun.
4. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
Skenario II: Anda sudah punya saham AAPL.
A. Anda beli saham AAPL 9 bulan lalu di harga 1.100.
Pilih mana:
1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena masih yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.250.
5. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250.
6. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
B: Anda beli saham AAPL kemarin di harga 1.100.
Pilih mana:
1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena masih yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.250.
5. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250.
6. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
Silahkan pilih dengan menulis komentar.
Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada sekurang-kurangnya 25 orang memberikan pilihan.
Jawaban yang disertai penjelasan detil dan alasan mengapa anda memilih yang anda pilih akan saya komentari satu-per-satu SETELAH saya menulis pos tanggapan.
Misalkan saham AAPL selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran Rp 1.000 dengan harga paling tinggi Rp 1.050 dan harga paling rendah Rp 950.
Misalkan juga kemarin saham AAPL naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata. Dan hari ini saham AAPL masih lanjut naik dan beberapa saat sebelum market Close, harga AAPL bertahan di Rp 1.250.
Skenario I: Anda tidak punya saham AAPL
Pilih mana:
1. Beli langsung AAPL di 1.250.
2. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250. (Kalau tidak dapat hari ini, anda berencana akan antri beli lagi besok.)
3. Tidak antri beli karena anda khawatir AAPL sudah kemahalan dan harganya akan turun.
4. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
Skenario II: Anda sudah punya saham AAPL.
A. Anda beli saham AAPL 9 bulan lalu di harga 1.100.
Pilih mana:
1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena masih yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.250.
5. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250.
6. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
B: Anda beli saham AAPL kemarin di harga 1.100.
Pilih mana:
1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena masih yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.250.
5. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250.
6. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
Silahkan pilih dengan menulis komentar.
Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada sekurang-kurangnya 25 orang memberikan pilihan.
Jawaban yang disertai penjelasan detil dan alasan mengapa anda memilih yang anda pilih akan saya komentari satu-per-satu SETELAH saya menulis pos tanggapan.
Subscribe to:
Posts (Atom)