Showing posts with label analisa fundamental. Show all posts
Showing posts with label analisa fundamental. Show all posts

Friday, October 27, 2017

Cara Membaca Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan

Bagaimana cara membaca laporan tahunan (annual report) perusahaan?

Membaca laporan tahunan perusahaan adalah "makanan" utama analis fundamental. Karena saya sudah lama meninggalkan analisa fundamental untuk berkonsentrasi di analisa teknikal, saya tidak bisa banyak membantu anda dalam hal ini.

Tapi saya punya artikel menarik yang mungkin bisa membantu anda: How to Read an Annual Report yang ditulis Jane Bryant Quinn di tahun 1980an untuk perusahaan kertas raksasa Amerika Serikat, International Paper. International Paper menggunakan artikel ini sebagai bagian dari kampanye The Power of Printed Word (Kekuatan Kata-kata Yang Dicetak).

Walaupun Jane Bryant Quinn menulis artikel ini 30 tahun lalu, isinya masih relevan dengan kondisi sekarang.

Tapi ada satu masalah: artikel ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Kalau anda kurang mengerti bahasa Inggris, saran saya: tetap paksakan diri anda untuk baca dari awal sampai akhir. Kalau anda mau belajar saham, mau tidak mau, suka tidak suka, anda perlu mengerti bahasa Inggris. Kalau tidak mengerti banyak, setidaknya harus mengerti sedikit.

Kalau anda sudah berusaha tapi masih tetap kurang mengerti, silahkan tinggalkan pertanyaan atau komentar. (Tapi ada baiknya anda baca dulu komentar Mama Naunau, yang menurut saya, sudah merangkum dalam bahasa Indonesia inti dari artikel tersebut. Silahkan klik link "komentar" di bawah.)

Figure 1. How to Read an Annual Report by Jane Bryant Quinn, p.1.

Figure 2. How to Read an Annual Report by Jane Bryant Quinn, p.2.

    Thursday, October 27, 2016

    Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)

    Anda sudah tahu arti Price-to-Earnings Ratio (biasa disingkat PE Ratio atau PER)? Anda sudah tahu juga cara menghitung PER? (Kalau anda belum tahu, silahkan baca dulu pos "Arti Istilah 'Price-to-Earnings Ratio'".)

    Berbekal pengetahuan di atas, mungkin anda bersemangat untuk mulai menganalisa saham berdasarkan PER. Sebelum mulai, anda perlu tahu bahwa PER yang anda lihat di penyedia-data (surat-kabar, situs online, dll) yang satu belum tentu sama dengan PER di penyedia-data yang lain.

    Kok bisa tidak sama? Bukankah data saham seharusnya sama?

    Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, anda perlu tahu dulu bahwa Price-to-Earnings Ratio itu terbagi atas 2 macam: Trailing PER dan Forward PER.

    Apa bedanya?

    Mari kita bahas bersama.


    Price-to-Earnings Ratio (PER)

    Anda masih ingat rumus menghitung PER?

    Price-to-Earnings Ratio (PER) = Harga Saham/Laba Per Saham

    Pada rumus di atas, data Harga Saham yang umum dipakai adalah harga saham terkini. 

    (Kalau anda ingin tahu PER saham pada tanggal tertentu, data Harga Saham yang dipakai adalah harga saham pada tanggal tersebut.)

    Bagaimana dengan data Laba Per Saham? Nah, data Laba Per Saham inilah yang membedakan Trailing PER dan Forward PER.


    Trailing PE Ratio

    Laba Per Saham yang dipakai untuk menghitung Trailing PER adalah data laba per saham terakhir yang dipublikasikan perusahaan. Dengan kata lain, data Laba Per Saham yang dipakai adalah fakta, hal yang SUDAH terealisasi, yang sudah terjadi di masa lalu, yang sudah (bisa) diketahui oleh khalayak ramai.

    Bagaimana dengan Forward PER?


    Forward PE Ratio

    Laba Per Saham yang dipakai untuk menghitung Forward PER adalah data laba per saham di masa yang akan datang.

    Lho? mata anda membelalak. Masa datang kan belum terjadi, kok bisa ada data laba?

    Pertanyaan yang cerdas.

    Anda benar bahwa masa datang belum terjadi; karena itu data laba per saham di masa depan ini tidak mungkin berdasarkan fakta. Artinya? Data laba di masa datang yang dipakai untuk menghitung Forwar PER ini adalah PREDIKSI analis fundamental saham.

    Prediksi. Alias forecast. Alias perkiraan. Alias ramalan. Alias tebakan.

    Mengapa para analis saham berusaha memprediksi laba di masa yang akan datang?

    Tentang hal ini, anda perlu ingat bahwa pemain saham selalu melihat ke masa yang akan datang. Data yang sudah dipublikasikan adalah berita basi karena hal yang sudah terjadi dan diketahui pasarbiasanyatidak menggerakkan harga saham. Yang biasanya menggerakkan harga saham adalah prospek di masa yang akan datang.

    Lho?

    Akan lebih jelas kalau anda membaca contoh berikut:

    Misalkan di awal tahun 2014 Kalbe Farma mempublikasikan data laba Rp 200 per saham di laporan keuangan tahun 2013. Setelah data ini diketahui umum, para pemain saham ingin tahu apakah laba perusahaan tahun 2014 (dan di masa-masa yang akan datang) akan meningkat atau menurun.

    Kalau laba akan meningkat, berarti harga saham pada saat ini relatif murah dibanding prospek masa datang. Artinya: saham patut dibeli. Kalau laba akan menurun, berarti harga saham saat ini relatif mahal dibanding prospek masa datang. Artinya: saham patut dijual.

    Pertanyaannya: Bagaimana cara mendapatkan angka laba di masa datang? Satu-satunya cara adalah dengan memprediksi, dengan menebak.

    Nah, kalau anda bisa memprediksi secara terpelajar dengan tepat laba perusahaan di masa datang, anda bisa membeli/menjual saham di harga sekarang untuk prospek di masa datang.

    Tidak heran kalau para analis fundamental saham berlomba-lomba menebak laba perusahaan di masa datang. 

    Tentu saja tidak asal-asalan menebak; menebaknya harus secara terpelajar ("educated guess") dengan menggunakan data yang tersedia. Tapi yang namanya nebakwalaupun secara terpelajar sekalipun—berarti bisa (sering) salah. (Silahkan baca juga pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?")

    Sekarang anda sudah tahu perbedaan Trailing PER dan Forward PER. Sudahkah saatnya anda mulai menganalisa saham berdasarkan PER?

    Belum.

    Masih ada hal lain yang perlu anda ketahui tentang PER. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 2)."

      Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 2)

      Pos ini adalah lanjutan dari "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)."


      Dari pos "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)" anda sudah tahu perbedaan Trailing PER dan Forward PER.

      Tapi kisah tentang PER masih belum selesai: masih ada satu PER lagi yang disebut Consensus PER.


      Consensus PE Ratio

      Untuk menjelaskan Consensus PER, ada baiknya saya sajikan dalam sebuah ilustrasi.

      Misalkan pada tanggal 05 April 2014 harga saham Bank BNI (BBNI) adalah Rp 4000. Beberapa hari sebelumnya, BBNI mempublikasikan Laporan Keuangan Tahun 2013 yang sudah diaudit: Laba Per Saham BBNI di tahun 2013 adalah Rp 200. Ini berarti:

      Trailing PER BBNI = Harga Saham/Laba per Saham  
      = 4000/200 = 20

      Karena menghitung Trailing PER menggunakan data faktual, data Trailing PER BBNI pada tanggal 05 April 2014 di koran atau situs online apapun adalah (seharusnya) sama, yakni 20.

      Sampai di sini masih cukup jelas, kan? Mari kita mengeruhkan suasana.

      Misalkan juga, pada hari itu analis bernama Sumi dari Ramal Sekuritas mempublikasikan riset terkininya tentang BBNI. Sumi memprediksi sepanjang tahun 2014 BBNI akan berhasil meraih laba per saham sebesar Rp 400. Ini berarti:

      Forward PER BBNI (versi Sumi) = 4000/400 = 10

      Memprediksi laba saham di masa datang tidak hanya boleh dilakukan Sumi dan Ramal Sekuritas. Artinya? Analis lain boleh juga melakukan hal yang sama.

      Katakan, pada hari yang sama Minu dari Nujum Investama tidak mau kalah dengan Sumi dan mempublikasikan riset terkininya tentang BBNI. Minu  memprediksi bahwa di tahun 2014 BBNI akan meraih laba per saham Rp 800. Ini berarti, menurut Minu dari Nujum Investama:

      Forward PER BBNI (versi Minu) = 4000/800 = 5

      Nah lho?

      Menurut Sumi Forward PER BBNI adalah 10. Menurut Minu Forward PER BBNI adalah 5. Mana yang benar?
       
      Tunggu dulu. Ceritanya belum selesai.

      Umpamakan juga, surat kabar Bisnis Saham mau mencantumkan data Forward PER BBNI. Editor koran Bisnis Saham, bung Adil, menerima data riset terkini dari Ramal Sekuritas dan Nujum Investama. Tapi bung Adil bingung harus mencantumkan data Forward PER yang mana.

      Bung Adil berpikir, kalau memilih data Sumi, mungkin Minu marah. Tapi kalau memilih data Minu, mungkin Sumi yang marah. Bagaimana caranya supaya Sumi dan Minu tidak marah?

      Bung Adil menelurkan ide cemerlang: pakai saja KEDUA data tersebut. Caranya? Pakai saja rata-rata dari laba per saham  prediksi kedua analis.

      Forward PER BBNI versi koran Bisnis Saham =
      Harga saham / [(Laba versi Sumi + Laba versi Minu)/2]=

      4000 / [(400 + 800)/2] = 6.7

      Nah, hasil perhitungan Forward PER seperti inilah yang disebut Consensus (Forward) PER.

      (N.B.: Kalau bung Adil mendapat data dari 10 analis, Consensus Forward PER adalah harga saham dibagi rata-rata dari 10 data laba per saham dari 10 analis tersebut.)


      Sampai di sini, kita tahu bahwa Forward PER BBNI  menurut Sumi adalah 10, menurut Minu Forward PER BBNI adalah 5, menurut surat kabar Bisnis Saham Forward PER BBNI adalah 6.7.

      Jadi, yang mana yang benar? 

      Siapa yang tahu?

      Karena semua data Forward PER adalah berdasarkan prediksi, hanya waktu yang akan membuktikan siapa yang benar, siapa yang salah.


      Pesan moral pos ini:

      Pertama, Analisa Fundamental sering harus memakai data PREDIKSI, bukan data faktual. Memprediksi artinya menerka, menebak. Menebak berarti bisa (sering) salah. Kalau tebakannya salah, hasil analisa fundamentalnya juga salah. 

      Kedua, ketika anda membandingkan PER saham, anda harus tahu persis PER apa yang anda bandingkan. Apakah Trailing PER? Atau Forward PER dari satu analis? Atau Consensus (Forward) PER dari banyak analis?

      (Ilustrasi di atas adalah satu contoh lagi untuk tidak serta-merta percaya pada siapapun, bahkan analis terkemuka. Premis ini sudah saya tulis di pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?")

        Wednesday, October 26, 2016

        Resiko & Masalah "Value Investing" Bagi Pemula

        Anda baru saja selesai membaca buku tentang Warren Buffet, tentang bagaimana ia menjadi salah satu investor terkaya di dunia karena menerapkan investasi jangka panjang "value investing."

        Terinspirasi buku tersebut, anda memutuskan untuk mengikuti jejak Warren Buffet menjadi "value investor". Mulailah anda menyelami analisa fundamental untuk mencari saham yang value/nilai-nya murah. (Silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental.")

        Anda mengumpulkan data-data perusahaan, membaca laporan keuangan, menghitung rasio finansial. Setelah 3 bulan kurang tidur melakukan semua hal ini, anda menemukan saham PT Bagus Murah (kode saham PTBM) seharga Rp 2000 per lembar yang menurut anda memenuhi kriteria "value investing."

        Keesokan harinya, anda memasukkan order untuk membeli saham PTBM di harga 1950. Sebelum sesi perdagangan selesai, order beli anda terlaksana.

        "Ah, PTBM," pikir anda, "engkau adalah langkah pertamaku untuk menjadi Warren Buffet Indonesia."

        Nah, sambil menunggu cita-cita anda terwujud, izinkan saya bertanya: pernahkah anda memikirkan, kalau PTBM "value"nya murah di Rp 2000, kenapa anda bisa mendapatkan saham tersebut bahkan di bawah harga yangmenurut andamurah tersebut?

        Yang pasti bukan karena anda pintar membujuk penjual untuk memberi diskon. Toh, membeli saham di bursa tidak ada interaksi langsung anda penjual dan pembeli.

        Juga bukan karena saham PTBM yang anda dapatkan adalah saham KW(kualitas)2 atau KW3 karena saham tidak ada KW1 atau KW2 atau KW3: semua saham KWnya sama.

        Kalau begitu, apa penyebab anda bisa membeli PTBM di harga yangmenurut andanilainya murah?

        Untuk menjawab pertanyaan ini, anda terlebih dulu perlu tahu definisi "value." Nah, Jean V. Dubois mendefinisikan "value" suatu benda sebagai berikut:


        " . . . . The value of thing is always relative to a particular person, is completely personal and different in quantity for each living human—'market value' is a fiction, merely a rough guess at the average of personal values, all of which must be quantitatively different or trade would be impossible."

        Bahasa Indonesianya kira-kira begini:

        Nilai suatu benda selalu tergantung pada masing-masing individu, adalah sepenuhnya personal dan berbeda kuantitasnya untuk setiap manusia—'nilai pasar' adalah fiksi, hanyalah tebakan kasar dari rata-rata nilai menurut setiap individu, yang mana kuantitasnya harus berbeda atau jual-beli tidak mungkin terjadi.


        Dalam konteks main saham, definisi di atas menyatakan bahwa anda bisa mendapatkan saham yang—menurut andanilainya murah HANYA KALAU ada individu-individu lain yang menjual saham tersebut.

        Nah, mengapa individu-individu tersebut bersedia menjual di hargayang menurut andamurah? Apakah karena mereka murah hati? Apakah karena mereka ingin anda menjadi Warren Buffet Indonesia?

        Tentu saja tidak.

        Alasan mereka menjual di harga tersebut adalah karena menurut mereka harga saham tersebut nilainya mahal. Oke, kalaupun tidak mahal, setidak-tidaknya tidak murah.

        Kok begitu?

        Karena kalau semua pemain saham merasa bahwa nilai saham tersebut murah, tidak ada seorangpun yang menjual dan anda tidak akan mendapatkan saham di harga tersebut.
         

        Nah, menurut anda (pembeli) harganya murah; menurut penjual harganya tidak murah. Jadi, siapa yang benar?

        Pertanyaan tersebut akan terjawab hanya dengan berjalannya waktu.

        Artinya, kalau di masa depan harga saham PTBM naik, berarti valuasi si pembeli yang benar. Kalau di masa depan harga saham PTBM turun, berarti valuasi si penjual yang benar.

        Oke, mari kita misalkan dulu bahwa saham naik: anda yang benar. Kalau hal ini terjadi, cerita selesai. Cita-cita anda menjadi Warren Buffet bisa segera menjadi kenyataan.

        Tapi, menurut anda sejujurnya, berapa besar kemungkinan hal ini terjadi?

        Anda seorang "value investor" pemula yang masih hijau, baru saja menyelami analisa fundamental selama beberapa bulan, baru pertama kali membeli saham. Penjual bisa saja sudah main saham puluhan tahun, mungkin juga adalah investor yang kantongnya tebal, yang sudah mengerti analisa fundamental dan teknikal luar-dalam sebelum anda lahir.

        Nah, berapa besar kemungkinan bahwa anda yang benar?

        Kalau anda objektif, anda akan menjawab, "Kemungkinannya kecil."

        Setuju.

        Oke, mari kita lanjut dengan kemungkinan kedua: saham turun, berarti penjual yang benar. Kalau hal ini yang terjadi, anda menghadapi masalah besar pertama anda sebagai "value investor."

        Masalah besar? Masalah besar gimana?

        Mari kita bahas.

        Menurut analisa anda saham PTBM nilainya murah di harga Rp 2000. Tapi setelah anda beli, PTBM bukannya naik tapi malahan turun. Dan turunnya tidak tanggung-tanggung; dalam 3 bulan PTBM turun dari harga beli anda di 1950 ke 1500.

        Nah, harga PTBM yang turun menandakan bahwa valuasi anda salah. Apa yang seharusnya anda lakukan kalau anda salah?

        Kalau anda salah, seharusnya anda cut-loss. (Silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.")

        Masalahnya, analisa fundamental hampir TIDAK PERNAH secara gamblang menganjurkan cut-loss. Oleh sebab itu, banyak "value investor" pemula yang menyimpulkan bahwa investasi jangka panjang tidak perlu cut-loss, bahwa kalau harga saham turun, langkah selanjutnya adalah menunggu. Menunggu apa? Menunggu harga saham naik. (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Trading Plan'.")

        Menunggu saham naik bisa menjadi masalah besar untuk investor jangka panjang. Tapi masih ada masalah lain yang lebih berbahaya lagi karena cukup banyak "value investor" yang "cerdas" memakai logika.

        Logika yang mereka pakai bunyinya begini: kalau PTBM murah nilainya di 2000, bukankah PTBM di harga 1500 berarti nilainya LEBIH MURAH lagi? Kalau lebih murah, bukankah sebaiknya ia membeli lagi PTBM di harga yang lebih murah ini?

        Tindakan membeli lagi di harga lebih murah biasa disebut dengan istilah "averaging down." (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Averaging Down' Saham.")

        Masalahnya, bagaimana kalau setelah anda "average down" PTBM di harga 1500, harga PTBM melanjutkan anjloknya, katakanlah, ke harga 1000. Kalau 1950 murah, 1500 lebih murah, bukankah 1000 SANGAT LEBIH MURAH? Kalau sangat lebih murah, bukankah seharusnya anda beli LEBIH BANYAK lagi di harga 1000?

        Kalau setelah ke-sekian kali anda "average down" lalu harga PTBM naik, anda mungkin bisa balik modal atau bahkan untung. Tapi bagaimana kalau PTBM turun anda "average down", PTBM masih turun anda tetap "average down", dan PTBM masih saja turun dan anda sudah tidak punya uang untuk "average down" lagi?

        Pada saat itu saya yakin anda mulai menerima kenyataan pahit bahwa "value investing" tidak semudah yang anda bayangkan. Dan cita-cita anda untuk menjadi Warren Buffet Indonesia harus ditunda dulu untuk beberapa saat.


        Pesan yang ingin saya sampaikan di pos ini adalah:
        1. Value investing sangat sulit, tidak semudah penjelasan di buku atau seminar tentang Warren Buffet.
        2. Anda bisa mendapatkan saham yang menurut anda nilainya murah HANYA KALAU ada individu lain yang menganggap saham itu nilainya mahal (atau setidak-tidaknya tidak murah).
        3. Saham yang menurut anda nilainya murah bisa turun dan menjadi lebih murah lagi.
        4. Cut-loss bukan hanya harus dilakukan untuk trading saham jangka pendek tapi juga harus dilakukan untuk investasi saham jangka panjang.
        5. Terus membeli saham yang sedang terus turun karena menurut anda nilainya semakin murah adalah tindakan bodoh.

          Monday, October 24, 2016

          Banyak Data = Pasti Untung?

          Minggu lalu, ketika membenahi lemari buku di rumah ibu, saya menemukan buku Indonesia Capital Market Directory tahun 1996.

          Figure 1. Sampul Depan Indonesia Capital Market Directory 1996

          Melihat Indonesia Capital Market Directory (ICMD) lawas itu, saya teringat masa-masa awal saya bermain saham. Nostalgia, gitu loh.

          Kalau anda pernah membaca halaman "About" atau "Profil", anda tahu bahwa—sebelum menjadi trader yang mementingkan analisa teknikalsaya mulai bermain saham sebagai investor jangka menengah yang mementingkan analisa fundamental. Analisa fundamental berarti berusaha meneliti laporan keuangan perusahaan.

          Di tahun 1997, mencari data keuangan perusahaan tidak semudah sekarang. Jaringan internet di Indonesia pada saat itu baru sebatas untuk email danseingat sayaBursa Efek Jakarta dan perusahaan-perusahaan publik belum ada yang memiliki website. 

          Kenapa tidak di-google saja? tukas anda.

          Tidak bisa. Google belum ada karena Google didirikan pada akhir tahun 1998.

          Lalu, bagaimana cara mendapatkan data keuangan perusahaan?

          Cara termudah yang saya tahu adalah berlangganan surat kabar Bisnis Indonesia dan mengkliping laporan keuangan tahunan perusahaan dari koran tersebut. Silahkan lihat contoh di bawah ini.

          Figure 2. Laporan Keuangan Konsolidasi PT Dynaplast Tahun 1996

          Mengkliping laporan keuangan menelan waktu dan memakan biaya (langganan koran). Lagipula, untuk analisa fundamental diperlukan data keuangan perusahaan beberapa tahun terakhir, bukan hanya tahun terakhir saja. Artinya saya harus mengkliping dan menyimpan laporan keuangan tahun ini untuk dibandingkan dengan laporan keuangan tahun-tahun berikutnya.

          Nah, mengkliping laporan keuangan hanya empat atau lima perusahaan sudah cukup merepotkan. Tapi bagaimana kalau suatu saat saya tertarik menganalisa fundamental suatu perusahaan tapi saya tidak punya kliping laporan keuangannya?

          Apa yang harus saya lakukan? Masa sih harus mengkliping laporan keuangan semua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta?

          Untung saja ada Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang diterbitkan Institute for Economic and Financial Research.

          Di dalam ICMD, selain ringkasan laporan keuangan 3 tahun terakhir, juga bisa ditemukan rasio-rasio keuangan perusahan seperti PER (Price-to-Earnings Ratio), PBV (Price to Book Value), Dividend Payout, Dividend Yield, ROI (Return on Investment), ROE (Return on Equity), dan masih banyak lagi data lainnya. Silahkan lihat Figure 3 dan Figure 4.

          Figure 3. Indonesian Capital Market Directory Hal.170 PT Dynaplast

          Figure 4. Indonesian Capital Market Directory 1996 Hal.171 PT Dynaplast

          Bermodal data historikal yang lebih banyak dan lebih lengkap, saya berasumsi bahwa saya akan bisa membuat keputusan investasi saham yang menguntungkan.

          Kenyataannya?

          Saya tetap saja merugi.

          Kok bisa? tanya anda.

          Saat itu, saya juga bingung. Barulah beberapa tahun kemudian saya menemukan jawabannya: pergerakan harga saham selalu forward looking (melihat ke depan) sedangkan laporan keuangan (data historikal) adalah melihat ke belakang. (Silahkan baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?") Dengan kata lain, membeli saham hanya berdasarkan analisa fundamental (data keuangan) masa lalu bukanlah resep tepat untuk mendapat untung.

          Semua waktu dan tenaga yang saya curahkan untuk mengkliping dan menganalisa laporan keuangan sia-sia belaka.

          Apa artinya untuk anda?

          Artinya, kekuatan analisa bergantung pada logika di balik analisa tersebut, bukan pada jumlah data yang semakin banyak.

          Pesan moral:

          Kalau saat ini anda sedang belajar menganalisa saham, jangan beranggapan bahwa semakin banyak data historikal yang anda gunakan berarti semakin besar kemungkinan anda mendapat untung dari saham.
           






          Pos-pos yang berhubungan:
          • Resiko & Masalah Value Investing Bagi Pemula
          • Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?
          • Cara Investasi Saham Jangka Panjang Dengan Analisa Teknikal
          [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]