Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Wednesday, October 26, 2016

Bijaksanakah Membeli/Menjual Saham Hanya Berdasarkan Bid/Offer?

Menjelang pemilihan caleg (atau calon bupati atau calon gubernur atau calon presiden atau calon-calon lainnya) anda mungkin melihat baliho-baliho pas foto raksasa caleg disertai pesan seperti ini: "Mohon doa restu. Coblos Akil Modar, nomor urut 4 dari PSK (Partai Suka Korupsi)."

Selain baliho, para calon juga menempel poster di tembok, pagar, tiang listrik.

"Pilih saya," kata poster yang satu, "Jujur menjalankan amanat rakyat."

"Anti-korupsi," kata poster yang lain tidak mau kalah gombal. "Pilihlah saya."

Pertanyaan saya: Ketika tiba saatnya anda untuk memilih, apakah anda memilih berdasarkan janji surga, slogan gombal, pepesan kosong di baliho atau poster si caleg?

"Tentu tidak," jawab anda. "Hanya orang bodoh saja yang percaya pada kata-kata bohong seperti itu."

"Kalau anda tidak memilih berdasarkan baliho dan poster," tanya saya, "bagaimana cara anda menentukan pilihan?"

"Saya memilih berdasarkan track-record dan prestasi masa lalu si calon," jawab anda. "Kalau ia seorang incumbent (petahana), saya akan lihat apakah ia merealisasikan janji-janjinya pada pemilu sebelumnya. Kalau ia belum pernah menjabat, saya akan coba melihat track-record dan prestasi di pekerjaan terdahulunya."

100% setuju.

Anda memilih TIDAK berdasarkan iklan, janji, slogan yang digembuskan si caleg. Anda memilih berdasarkan hasil nyata, berdasarkan fakta dan bukti.

Amat sangat bijaksana.

"Tapi," tanya anda, "apa hubungan pemilihan caleg dengan pos ini yang berjudul Bijaksanakah Membeli/Menjual Saham Berdasarkan Bid/Offer?"

Sudah saya tunggu-tunggu pertanyaan ini.

Hubungannya adalah:
Membeli saham hanya berdasarkan Bid/Offer sama saja dengan memilih caleg hanya berdasarkan baliho atau poster.

Hah?

Mari kita bahas.

Di pos "Istilah 'Bid' dan 'Offer' Ketika Bermain Saham" saya mendefinisikan Bid dan Offer sebagai berikut:

Figure 1. Tampilan Bid/Offer Inco 17 April 2014 di HOTS Daewoo Securities

Bid = penawaran beli, minat beli, antri beli.
Offer = penawaran jual, minat jual, antri jual.

Nah, yang namanya minat beli tidak berarti pasti dapat; yang namanya minat jual tidak berarti pasti laku.

Hanya karena anda berminat menjadi pacar Taylor Swift tidak berarti anda akan menjadi pacar Taylor Swift. Minat anda akan terlaksana hanya kalau Taylor Swift bersedia menjadi pacar anda. 

Dengan kata lain, Bid (minat beli) anda akan terlaksana hanya kalau ada pihak lain yang menjual saham ke anda pada harga Bid tersebut; Offer (minat jual) anda akan terlaksana hanya kalau ada pihak lain yang membeli saham dari anda pada harga Offer tersebut.

Masalahnya, sebelum minat beli dan/atau minat jual anda terlaksana, banyak hal yang bisa terjadi dan bisa anda lakukan.

Salah satu hal penting yang bisa anda lakukansebelum order Bid/Offer terlaksanaadalah membatalkan (withdraw) atau merubah (amend) Bid/Offer tersebut secara sepihak.

Agar lebih jelas, mari kita lihat ilustrasi berikut:

Misalkan harga WTON saat ini adalah 800 dan anda memasang Bid 100 lot di 750. Memasang Bid ini ibaratnya anda berkata pada pasar, "Kalau WTON turun ke 750, gue mau beli 100 lot."

Beberapa saat kemudian saat WTON turun ke 755, anda berkata dalam hati, "Harga 750 kayaknya masih terlalu mahal. Gue turunin aja deh ke 730."

Karena order Bid anda belum terlaksana, anda boleh saja mencabut Bid di 750 dan memasukkan order baru Bid di 730. Ini ibaratnya anda berkata pada pasar, "Kalau WTON turun ke 730, baru deh gue beli."

Saat WTON turun ke 735, anda bergumam, "Kok WTON turun terus ya. Turunin Bid ke 700 aja ah."

Dan hal ini bisa anda lakukan berulang-ulang di bursa. Dan hal ini sah-sah saja.

(Kalau anda berbelanja di pasar dan terus-menerus menurunkan harga penawaran anda, siap-siap saja dibacok si penjual.

"Kaos ini 10.000 boleh gak, bang?"

"11.000 deh."

"Kalau 9.000 boleh gak, bang?"

"Hah?! Tadi nawar 10.000. Kok malah turun 9.000? Boleh deh 10.000"

"Kalau 8.000 boleh gak, bang?"

"Elo mau belanja atau main-main sih? Kalau gak minat, enyah aja deh!")

 
Dari ilustrasi di atas, anda bisa melihat bahwa Bid dan Offer adalah ibarat pepesan kosong, ibarat omdo (omong doang) di bursa saham. Dan di bursa saham, omdo ini bisa saja dipakai pihak-pihak tertentu untuk mempengaruhi pasar.

Artinya, bisa saja pihak-pihak tertentu (bandar) menempel Bid untuk membuat kesan seakan-akan saham tersebut banyak yang mau beli. Atau sebaliknya, bisa juga si bandar menempel Offer untuk membuat kesan seakan-akan saham tersebut banyak yang mau jual. Untuk lebih jelas, silahkan baca pos "Dampak Perubahan Satuan Lot dan Fraksi Harga Saham (Bagian 3).

Pemula yang melihat Bid berjumlah puluhan ribu lot mungkin saja berkesimpulan, "Wah, saham ini banyak yang mau beli. Sebelum ketinggalan, lebih baik saya beli sekarang juga." Masalahnya, bisa saja setelah anda beli, si bandar mencabut Bid dan saham melorot. Saat itu anda hanya bisa gigit jari menyadari sudah digombalin bandar.

Kebalikannya: pemula yang melihat Offer berjumlah puluhan ribu lot mungkin saja berkesimpulan, "Wah, saham ini banyak yang mau jual. Daripada saham saya tidak laku-laku, lebih baik saya jual sekarang juga." Masalahnya, bisa saja setelah anda jual, saham malah meroket.

Nah, sekarang anda sudah tahu bahwa Bid dan Offer bisa jadi hanyalah pepesan kosong. Pertanyaannya: Bagaimana cara yang benar menyikapi pepesan kosong ini?

Cara yang benar adalah untuk TIDAK membeli ataupun menjual saham hanya berdasarkan Bid dan Offer.

Anda memilih caleg tidak berdasarkan janji-janji surga di baliho dan poster. Anda seharusnya juga tidak membeli saham hanya berdasarkan Bid dan Offer.

"Tapi, bung Iyan," kata anda masih kurang puas, "masa sih posisi Bid/Offer tidak ada gunanya sama sekali untuk memilih saham?"

Oke, sebenarnya ada cara membaca Bid/Offer untuk menentukan apakah saham layak dibeli. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Membeli Saham Berdasarkan Bid/Offer." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.] 


Monday, October 24, 2016

Apakah Wanita Cocok Main Saham?

Kalau anda menonton CNBC, mayoritas komentator di saluran TV tersebut adalah pria. Yang wanita, biasanya, hanyalah si pembawa acara.

Kalau anda membaca buku-buku tentang investasi ataupun trading saham, penulis buku-buku tersebut mayoritas adalah pria.

Kalau anda membaca komentar-komentar di blog ini, mayoritas yang berkomentar dan bertanya adalah pria.

Nah, karena dunia saham adalah seakan-akan dunianya laki-laki, mungkin banyak perempuan yang ragu ketika ia mau mulai belajar main saham.

"Dunia saham dipenuhi laki-laki," pikir anda. "Kalau aku mau main saham, apakah cocok?"

Tanpa bertele-tele, saya jawab: Cocok.

"Jadi, perempuan bisa sukses main saham, termasuk trading saham jangka pendek?" tanya anda lagi.

Tentu saja.

Bahkan kalau anda bertanya, "Siapa yang lebih besar kemungkinannya sukses bermain saham, pria atau wanita?", saya akan menjawab tanpa ragu-ragu: wanita.

"Bung Iyan ini gimana seh?" saya bisa dengar protes dari para pria pembaca blog ini. "Masa iya wanita lebih mungkin sukses main saham daripada pria?"

Iya banget.

Menurut saya banyak faktor yang membuat wanita lebih cocok main saham daripada pria. 

Tidak percaya?

Mari kita bahas.

 


I. Ketertarikan pada aktivitas beresiko tinggi

Anda pernah melihat cuplikan berita Festival San Fermin yang digelar setiap tahun di Pamplona, Spanyol? Itu tuh, festival di mana puluhan ribu orang berkaos putih dan berselendang merah sengaja dikejar banteng-banteng yang sengaja dilepaskan di jalan.

Coba anda bayangkan: peserta festival membayar biaya mahal mengunjungi Pamplona untuk berlari bersama banteng-banteng yang tidak ragu mengejar dan menanduk mereka. Kalau lagi apes, mereka bisa terluka parah atau bahkan tewas oleh tandukan banteng.

Hal ini membuat saya bertanya pada diri sendiri: mengapa mereka melakukan itu? Menurut saya, tidak masuk akal ada orang rela membayar mahal untuk dikejar banteng ganas. Tapi nyatanya setiap tahun puluhan ribu orang datang ke Festival San Fermin khusus untuk itu.

Jadi, mengapa mereka melakukan itu?

Saya tidak tahu pasti jawabannya tapi, menurut saya, peserta Festival San Fermin rela mengeluarkan uang dan rela menanggung resiko tinggi karena mereka ingin memacu adrenalin, karena mereka suka pada aktivitas beresiko tinggi. Mungkin mereka merasa hidup lebih hidup kalau hidupnya dibayang-bayangi maut.

Nah, coba anda perhatikan: peserta festival tersebut lebih banyak laki-laki atau perempuan?

Mayoritas peserta adalah laki-laki.

Dari contoh di atas bisa kita simpulkan secara umum bahwa priadibanding wanitalebih tertarik pada kegiatan beresiko tinggi. Nah, karena main saham termasuk hal (yang dianggap) beresiko tinggi, tidak heran juga kalau lebih banyak priadibanding wanitayang tertarik main saham.

Apakah ini berarti, ketika bermain saham, kemungkinan sukses pria lebih besar daripada wanita?

Tentu saja tidak.

Tidak ada korelasi/hubungan positif antara suka resiko tinggi dengan sukses main saham. Malahan, yang ada adalah korelasi negatif: makin cinta seseorang pada resiko tinggi, makin besar pula kemungkinan ia GAGAL dalam trading ataupun investasi saham.

Kok bisa gitu?

Mari kita telusuri perlahan-lahan.

Anda sudah baca pos "Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini"?

Di pos tersebut saya menyatakan bahwa hal paling penting ketika bermain saham adalah Cut-Loss. Mengapa? Karena Cut-loss adalah tindakan tidak membiarkan rugi (resiko) kecil berkembang menjadi rugi (resiko) besar.

Bagi pecinta resiko tinggi, tindakan mengurangi resiko dengan cut-loss adalah hal yang tidak menarik. Untuk apa berusaha mengecilkan resiko? Mereka justru cinta pada resiko yang besar.

Nah, semakin tinggi resiko yang mereka tanggung, semakin mereka merasa lebih hidup. Dalam konteks main saham, mereka merasa semakin hidup kalau potensi kerugiannya semakin besar. Tidak heran kalau pecinta resiko tinggi tidak mau cut-loss.

Apa yang kemungkinan besar terjadi pada pria pecinta resiko tinggi yang tidak pernah mau cut-loss?

Bangkrut. Amblas. Gagal total.

Bagaimana dengan wanita?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Apakah Wanita Cocok Bermain Saham? (Bagian II)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]


    Monday, August 1, 2016

    Fondasi Psikologi Trading/Main Saham

    Kalau anda ingin belajar tentang psikologi main saham, saya anjurkan anda untuk membaca buku Trading in the Zone karya Mark Douglas.

    Figure 1. Sampul Buku Mark Douglas "Trading in the Zone"

    Setelah membaca dan memahami materi buku tersebut, saya lebih disiplin dalam bermain saham. Pada saat yang bersamaan, tingkat stress saya juga berkurang.

    [Catatan: materi Trading in the Zone BUKAN sesuatu yang mudah dimengerti. Saya baru mulai mengerti penjelasan Mark Douglas setelah mengulang membaca buku tersebut beberapa kali.]

    Salah satu poin terpenting buku tersebut adalah bahwa "a probalistic mind-set pertaining to trading consists of five fundamental truths." (dalam bahasa Indonesia bunyinya kira-kira begini: "pandangan probabilistik mengenai trading terdiri dari lima kebenaran fundamental.")

    Saking pentingnya "lima kebenaran fundamental," saya menulis hal tersebut di secarik kartu dan membacanya SETIAP PAGI sebelum saya mulai trading saham.

    Lima kebenaran fundamental tersebut adalah:

    1. Anything can happen. Apapun bisa terjadi.

    2. You don't need to know what is going to happen next in order to make money. Anda tidak perlu tahu apa yang akan terjadi berikutnya agar bisa mendapat untung.

    3. There is a random distribution between wins and losses for any given set of variables that define an edge. Terdapat distribusi acak antara kemenangan dan kekalahan untuk semua kumpulan variabel yang membentuk suatu keunggulan.

    4. An edge is nothing more than an indication of a higher probabilites of one thing happening over another. Suatu keunggulan tidaklah lebih dari suatu indikasi bahwa satu hal berkemungkinan terjadi lebih besar dari hal lain.

    5. Every moment in the market is unique. Setiap momen di pasar adalah unik.

    Figure 2. Kartu Five Fundamental Truths to Probabilistic Mind-Set

    Kalau anda ingin memahami psikologi main saham, baca buku Mark Douglas Trading in the Zone.

    Harga Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong? Tanggapan

    Sebelum membaca pos ini, silahkan baca dulu pos "Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?" dan komentar/pilihan pembaca.

    Di pos "Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?" saya mengajak anda untuk memikirkan langkah apa yang akan anda lakukan kalau saham AAPLyang selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran harga Rp 950 sampai dengan Rp 1.050—tiba-tiba hari ini naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata.

    Dan ada 2 skenario yang saya berikan: anda BELUM PUNYA saham AAPL dan anda SUDAH PUNYA saham AAPL.

    [Terima kasih kepada semua yang sudah meninggalkan komentar/pilihan. Pilihan yang disertai penjelasan mengapa anda memilih yang anda pilih akan saya komentari satu-per-satu setelah pos ini dipublikasikan.]

    Setelah membaca pos tersebut dan memilih, sangat mungkin anda ingin tahu pilihan mana yang lebih baik untuk masing-masing skenario tersebut.

    Tapi tujuan utama saya menulis pos tersebut BUKAN untuk membahas pilihan mana yang lebih baik.

    Lho?

    Tujuan utama saya adalah untuk membuka mata anda bahwa, saat bermain saham, pilihan anda (sangat) DIPENGARUHI kondisi apakah anda BELUM/TIDAK PUNYA atau SUDAH PUNYA suatu saham.

    Kok gitu?

    Mari kita bahas. 

    Coba anda perhatikan kondisi dasar skenario AAPL di atas : saham AAPLyang selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran harga Rp 950 sampai dengan Rp 1.050—tiba-tiba hari ini naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata. Skenario I: anda BELUM PUNYA saham AAPL. Skenario II: anda SUDAH PUNYA saham AAPL.

    Perhatikan juga bahwa yang harus anda analisa adalah pernyataan "saham AAPLyang selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran harga Rp 950 sampai dengan Rp 1.050—tiba-tiba hari ini naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata." Apakah menurut analisa anda kondisi ini Bullish, Bearish, atau tidak jelas?

    [Kalau anda belum tahu arti Bullish dan Bearish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham."] 

    Kalau menurut anda kondisi saham AAPL Bullish, sebaiknya anda punya saham tersebut.

    Kalau menurut anda kondisi saham AAPL Bearish, sebaiknya anda tidak punya saham tersebut.

    Kalau menurut anda kondisi saham AAPL tidak jelas, sebaiknya anda juga tidak punya saham tersebut.

    Perhatikan juga bahwa yang membedakan Skenario I dan Skenario II hanya kondisi apakah anda BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham AAPL. Kondisi dasar kedua skenario itu sama.

    Nah, kalau kondisi dasarnya sama, bukankah seharusnya kesimpulan anda juga sama, tanpa dipengaruhi kondisi apakah anda BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham tersebut?

    Artinya, kalau menurut analisa anda kondisi AAPL  Bullish pada skenario BELUM PUNYA saham, seharusnya  pada skenario SUDAH PUNYA saham analisa anda juga sama: AAPL Bullish. Kalau kondisi Bullish, seharusnya anda beli saham tersebut kalau BELUM PUNYA. Kalau SUDAH PUNYAseandainya anda tidak membeli lagisetidak-tidaknya anda tidak menjual saham tersebut.

    Dengan kata lain, kondisi apakah anda BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham seharusnya tidak mempengaruhi pilihan anda.

    Kata kunci pada kalimat di atas adalah SEHARUSNYA. 

    Tapi nyatanya, dari semua komentar/pilihan yang masuk, mayoritas penjawab memilih pilihan yang berbeda, tergantung apakah ia BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham AAPL. Contoh: BELUM PUNYA: beli langsung; SUDAH PUNYA: jual sebagian.

    Memang, ada beberapa pembaca yang menjawab tanpa terpengaruh oleh apakah ia BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham AAPL. Jawaban mereka: BELUM PUNYA: beli langsung; SUDAH PUNYA: beli lagi. (Catatan: ini juga adalah pilihan saya.)

    "Oh gitu ya," kata anda. "Apakah ini berarti pilihan yang sama tanpa terpengaruh BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham adalah tindakan yang lebih baik?"

    Belum tentu. Setiap orang toh punya cara main saham dan profil resiko yang berbeda.

    Lagipula, memilih dalam kondisi berandai-andai tidaklah sama dengan memilih dalam kondisi sesungguhnya.

    Ketika berandai-andai, anda (juga saya) mungkin bisa dengan mudah memilih membeli lagi saham AAPL walaupun SUDAH PUNYA saham tersebut. Tapi kalau kejadian sesungguhnya adalah anda sudah punya saham tersebut senilai Rp 1 milyar (dengan harga beli rata-rata Rp 1.200) dan saham tersebut sudah anda pegang (alias nyangkut) lebih dari 6 bulan*, kemungkinan besar anda TIDAK AKAN  membeli lagi saham AAPL. Walaupun secara teknikal saham tersebut memberi sinyal akan naik. Walaupun secara logika pilihan tersebut adalah yang lebih logis. 

    [* Catatan: pada contoh ini, dimisalkan anda adalah swing trader yang biasanya memegang saham tidak lebih dari 4 minggu dan dimisalkan juga total modal main saham anda Rp 2 milyar.]

    Apa artinya?

    Artinya anda HARUS tahu dan sadar bahwa BELUM/TIDAK PUNYA atau SUDAH PUNYA posisi akan MEMPENGARUHI pemikiran dan pilihan anda.

    Saat anda TIDAK PUNYA posisi, anda bisa melihat fakta, kondisi, dan situasi dengan pikiran lebih jernih dibandingkan saat anda SUDAH PUNYA posisi. Saat anda SUDAH PUNYA posisiterlepas apakah posisi tersebut untung ataupun rugi—pemikiran dan pilihan anda akan dipengaruhi posisi tersebut.

    Hal ini adalah salah satu alasan mengapa kala posisi anda rugi, tindakan terbaik adalah secepatnya CUT-LOSS.

    Mengapa?

    Karena dengan cut-loss dan menutup posisi yang rugi ini anda akan bisa melihat fakta, kondisi, dan situasi secara objektif.

    Pesan moral dari pos ini: kondisi apakah anda TIDAK/BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA suatu saham SEHARUSNYA tidak mempengaruhi pemikiran dan pilihan anda. Tapi faktanya adalah kondisi TIDAK/BELUM PUNYA posisi atau SUDAH PUNYA posisi PASTI akan mempengaruhi pemikiran dan pilihan anda. Sadarilah hal ini pada saat anda memilih tindakan selanjutnya yang akan anda lakukan.

    Pos-pos yang berhubungan:
    • Harga Saham Turun. Beli, Jual, atau Bengong?
    • Harga Saham Masih Naik. Beli, Jual, atau Bengong?
    •  
    [Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]