Monday, August 1, 2016

Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 1

Di bulan Januari 2016 saya menyurvey pembaca blog ini dengan pertanyaan ini:

Pilih mana:

1. Belajar saham dari analis saham
2. Belajar saham dari manajer investasi
3. Belajar saham dari pembicara seminar saham
4. Belajar saham dari perencana keuangan
5. Belajar saham dari broker saham
6. Belajar saham dari pemain saham

Total 199 suara masuk (terima kasih untuk anda-anda yang meluangkan waktu memilih) dengan hasil sebagai berikut:

20% (40 suara) memilih belajar saham dari analis saham
6% (11 suara) memilih belajar saham dari manajer investasi
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari pembicara seminar saham
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari perencana keuangan
3% (6 suara) memilih belajar saham dari broker saham
68% (136 suara) memilih belajar saham dari pemain saham

Dari jawaban yang masuk, mayoritas (68%) memilih belajar saham dari pemain saham.

Saya setuju.

Ibaratnya kalau anda ingin belajar memancing/menangkap ikan, anda sebaiknya belajar dari nelayan (penangkap ikan profesional).

Jadi, kalau anda ingin belajar main saham, anda sebaiknya belajar dari pemain saham profesional yang profesinya (dan penghasilan utamanya) adalah dari bermain saham.

Tapi, ada 2 masalah yang harus anda lalui kalau anda memilih belajar saham dari pemain saham.

Masalah apa, bung Iyan? tanya anda.

Pertama, banyak penjual buku/software dan penjual seminar yang menggembar-gemborkan dirinya sebagai pemain saham sukses dengan tujuan agar anda rela membayar mahal untuk ikut seminar yang mereka selenggarakan.

Dengan kata lain, anda harus pandai-pandai membedakan pemain saham profesional sungguhan dengan pembicara seminar berkedok pemain saham  yang menjanjikan akan mengajarkan cara cepat kaya dari main saham padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang ingin memangsa anda dan uang anda.

Kedua, kalaupun anda bisa menemukan pemain saham profesional sungguhan, belum tentu ia punya waktu luang mengajarkan anda cara bermain saham yang benar. Kalaupun ia punya waktu luang, belum tentu ia berminat mengajarkan anda cara bermain saham yang benar.

Coba anda pikirkan: apa untungnya (si pemain saham profesional) membagikan rahasia dapur cara bermain saham kepada anda?

Artinya, kalau anda menemukan pemain saham profesional sungguhan, jangan malu membujuk, merayu, memohonbahkan kalau perlu, sungkemagar ia bersedia mengajari anda cara bermain saham yang benar.

Malu bertanya, sesat di jalan.

Malu membujuk, merayu, memohon, ya gak bakal diajarin. 

Sudah malu-maluin membujuk, merayu, memohon, bahkan sungkem aja pun belum tentu anda akan diajarin.

[Catatan: mohon jangan membujuk, merayu, memohon saya untuk mengajari anda privat cara bermain saham. Silahkan belajar dengan membaca "Kurikulum" blog ini. Dan kalau bersikeras ingin layanan privat, silahkan baca halaman "Konsultasi."]

Tapi bung Iyan, gimana kalau saya tidak menemukan pemain saham yang mau ngajarin saya?

Kalau anda RELA membayar mahal (bayaran ini tidak harus dalam bentuk uang), saya yakin pasti ada pemain saham yang bersedia mengajar anda. Tapi kalau anda tidak mau membayar apalagi membayar mahal, alternatifnya adalah anda belajar (secara tidak langsung) dari tulisan (blog, buku) pemain saham profesional. (Pastikan bahwa blog/buku yang anda baca bukanlah kedok untuk menjual seminar.)

Tapi saya mau belajar langsung dari seseorang secara langsung, kata anda.

Nah, ini dia. Tidak mau bayar tapi mintanya banyak.  

Nah, kalau anda ingin belajar langsung tapi tidak menemukan pemain saham yang mau mengajari anda, alternatif terbaik adalah belajar dari . . .

Analis saham?

Bukan, bukan belajar dari analis saham (yang dipilih 20% penjawab, suara kedua terbanyak) tapi dari . . .

Ingin tahu jawabannya? Silahkan lanjut baca ke pos "Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]

Pos-pos yang berhubungan:
  • Cara Terbaik Belajar Main Saham
  • Belajar Main Saham dari Bahtera Nuh
  •  
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Seberapa Sering Trader Saham Top Dunia Untung?

Di bulan November 2015 saya men-survey pembaca blog ini dengan pertanyaan berikut:

Menurut anda, trader saham top dunia untung berapa kali (rata-rata) dari setiap 10 kali transaksi?

1. 3 kali (30%) atau kurang
2. 4 kali (40%)
3. 5 kali (50%)
4. 6 kali (60%)
5. 7 kali (70%)
6. 8 kali (80%) atau lebih

Total 159 suara masuk (terima kasih kepada semua yang meluangkan waktu memilih) dengan hasil sebagai berikut:

19% (30 suara) memilih 3 kali (30%) atau kurang
9% (14 suara) memilih 4 kali (40%)
13% (20 suara) memilih 5 kali (50%)
21% (34 suara) memilih 6 kali (60%)
21% (34 suara) memilih 7 kali (70%)
17% (27 suara) memilih 8 kali (80%) atau lebih


Dari hasil survey terlihat bahwa cukup banyak pemberi suara merasa bahwa trader (pemain) saham top dunia bisa konsisten untung 6, 7, bahkan 8 kali dari setiap 10 transaksi.

Benarkah pandangan tersebut?

Steve Cohensalah satu top trader saham yang di-interview Jack Schwager di buku Stock Market Wizardsbilang begini:

"My best trader make money only 63 percent of the time. Most traders make money only in the 50 to 55 percent range. That means you're going to be wrong a lot."

Terjemahannya: trader terbaik saya mencetak untung hanya 63 kali dari setiap 100 kali transaksi. Mayoritas trader* mencetak untung hanya antara 50 sampai 55 kali (dari setiap 100 kali transaksi). Ini artinya anda akan SERING salah.

[* Menurut saya, yang dimaksud Steve Cohen adalah mayoritas trader yang bekerja di perusahaan yang ia pimpin.]

Apa arti pernyataan Steve Cohen tersebut?

Artinya, kalau top trader-nya Steve Cohen bisa untung HANYA 63 kali dari setiap 100 kali transaksi DAN mayoritas trader yang bekerja di perusahaan Steve Cohen (dan trader-trader ini sudah bisa dikategorikan trader saham kelas dunia) bisa untung HANYA 50-55 kali dari setiap 100 transaksi, apakah masuk akal kalau pemula yang baru mulai main saham berharap bisa untung 50, 60, 70, atau bahkan 80 kali dari setiap 100 kali transaksi?

Yang lebih hebat lagi, buanyak sekali pemain saham yang baru mulai main saham mengharapkan bisa LANGSUNG UNTUNG dan tidak pernah rugi (padahal pengetahuan mereka tentang saham hampir tidak ada). Ini sama saja berarti mereka berharap mendapat untung 100 kali dari setiap 100 kali transaksi.

Masuk akalkah?

Kalau anda ingin sukses dalam bermain saham, langkah pertama yang harus anda lakukan adalah belajar TAHU DIRI. Baru belajar naik sepeda tapi kok berharap langsung jadi juara balap MotoGP?

[Kalau ada penjual seminar/pelatihan/software/alat yang menjanjikan bahwa anda BISA LANGSUNG jadi juara MotoGPpadahal naik sepeda pun anda masih belum bisaasalkan anda membeli barang yang mereka jual dan ANDA PERCAYA, nah, jangan salahkan si penjual. Yang bodoh adalah yang percaya omong kosong itu.] 

Dengan kata lain: Saat baru mulai belajar main saham, jangan berharap TERLALU MULUK dan TERLALU TINGGI. Harapan yang terlalu muluk dan terlalu tinggi hanya akan menuai stress. Mohon diingat bahwa pemain saham yang sudah bangkotan pun masih akan sering salah, apalagi pemain saham yang masih hijau.

Lagipula, anda tidak harus untung 6-7 kali dari setiap 10 kali transaksi untuk sukses main saham. Kalau anda sudah bisa mencetak untung 2-3 kali dari setiap 10 transaksi, anda seharusnya sudah bisa konsisten untung dari main saham.

Kok bisa?

Bisa, selama rugi anda yang 7-8 kali tersebut LEBIH KECIL dari untung yang cuma 2-3 kali.

Lho?

Dengan kata lain, saat bermain saham anda harus selalu berusaha meMINIMALkan kerugian dan meMAKSIMALkan keuntungan.

Dan untuk para pemula, yang LEBIH MUDAH dipelajari dan dilakukan adalah meMINIMALkan kerugian.

Caranya?

Cut-loss. Cut-loss. Cut-loss.

(Silahkan baca juga pos "Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini" dan pos "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal.")

Steve Cohen sudah memperingatkan bahwa anda akan SERING salah saat bermain saham. Kalau anda selalu membiarkan kesalahan tersebut menjadi kerugian yang besar, karir anda sebagai pemain saham tidak akan bertahan lama.

Belajar Apa Dulu: Analisa Fundamental atau Analisa Teknikal?

Di bulan Oktober 2015 saya menyurvey pembaca blog ini dengan pertanyaan berikut:

Pilih mana:

1. Belajar Analisa Fundamental lebih dulu
2. Belajar Analisa Teknikal lebih dulu
3. Belajar Analisa Fundamental & Teknikal bersamaan
4. Tidak belajar kedua-duanya

Total 147 suara masuk (terima kasih untuk semua yang meluangkan waktu memilih) dengan hasil sebagai berikut:

32% (48 suara) memilih belajar Analisa Fundamental lebih dulu
34% (51 suara) memilih belajar Analisa Teknikal lebih dulu
29% (44 suara) memilih belajar Analisa Fundamental & Teknikal bersamaan
2% (4 suara) memilih tidak belajar kedua-duanya 


Jadi sebenarnya mana yang lebih baik?

Mari kita bahas.

Apakah sebaiknya lebih dulu belajar Analisa Fundamental atau Analisa Teknikal adalah suatu pilihan. Dan dalam memilih, hasilnya akan lebih baik kalau pilihan tersebut sesuai dengan kemauan, karakter, dan kemampuan anda.

Masalahnya, ketika baru mulai belajar main saham, andakemungkinan besar—belum tahu kemauan, karakter, dan kemampuan anda. (Anda mungkin punya preferensi awal, tapi preferensi tersebut belum tentu benar.)

Artinya, kalau anda langsung mendalami Analisa Fundamental saja (atau Analisa Teknikal), yakinkah anda bahwa pilihan tersebut sesuai dengan kemauan, karakter, dan kemampuan anda?

Iya juga ya, kata anda dalam hati. Berati sebaiknya saya belajar kedua-duanya pada saat bersamaan?

Tapi belajar Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal pada waktu bersamaan akan menimbulkan masalah juga.

Masalah apa?

Di pos "Apa Inti Analisa Fundamental?" saya berargumentasi bahwa inti dari Analisa Fundamental adalah membeli saham yang nilainya (relatif) murah.

Di pos "Saham Yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal" saya menjelaskan bahwa inti dari Analisa Teknikal adalah membeli saham yang (trend) harganya cenderung sedang naik.

Nah, coba anda bandingkan.

Yang satu menganjurkan beli saham murah; yang satu lagi menganjurkan beli saham yang harganya cenderung sedang naik.

Yang namanya murah—biasanya—berarti harga sedang cenderung turun, bukan sedang naik. Yang harganya cenderung sedang naik—biasanya—berarti sudah tidak murah. 

Apa artinya?

Artinya: inti ajaran Analisa Fundamental BERTOLAK-BELAKANG dengan inti ajaran Analisa Teknikal.

Nah, kalau pada saat bersamaan anda berusaha mendalami dua hal yang intinya bertolak-belakang ini, besar kemungkinan anda akan puyeng pusing 77 keliling dipingpong antara membeli saham murah dengan membeli saham yang naik.

[Analoginya: kalau seseorang berusaha mendalami ilmu kungfu "putih" dan ilmu kungfu "hitam" pada saat bersamaan, alih-alih ilmunya bertambah tinggi malahan bisa-bisa ia menderita luka dalam.]

Jadi musti gimana dong?
 

Menurut saya, pilihan yang lebih baik adalah belajar Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal bersamaaan, tapi . . .

Belajar bersamaan ini bukanlah untuk mempelajari Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal secara mendalam.

Tujuan utama belajar bersamaan ini adalah agar anda mengenal "kulit" Analisa Fundamental dan "kulit" Analisa Teknikal.

Setelah anda tahu "kulit"nya, baru deh anda tentukan sendiri apakah Analisa Fundamental atau Analisa Teknikal yang lebih sesuai dengan kemauan, karakter, dan kemampuan anda.