Showing posts with label analisis teknikal. Show all posts
Showing posts with label analisis teknikal. Show all posts

Friday, October 28, 2016

Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)

Kala menonton atau mendengar analis saham ngoceh di TV atau radio, anda mungkin pernah mendengar kalimat "...saham Astra Agro Lestari (AALI) Support di 1200, Resistance di 1360." Mendengar kedua kata ini, mungkin anda selalu bertanya dalam hati ,"Support dan Resistance ini sebenarnya apaan sih?"

Kabar gembira! Anda tiba di tempat yang tepat karena Support dan Resistance adalah topik yang akan saya bahas di pos ini.

Untuk memudahkan pemahaman, pembahasan Support dan Resistance akan saya mulai dengan membahas padanan bahasa Indonesia kata Support dan Resistance, dilanjutkan ke definisi, lalu makna Support dan Resistance bagi pemain saham, dan diakhiri dengan sifat-sifat dasar (karakteristik) Support dan Resistance. 



Bahasa Indonesia Support dan Resistance

Agar bisa lebih mudah mengerti Support dan Resistance, langkah pertama adalah mencari padanan kata Support dan Resistance dalam bahasa Indonesia.

Setelah saya pikirkan berbulan-bulan, saya rasa saya menemukan kata-kata yang cocok. Menurut saya:

Support = Penopang

Resistance = Penghalang

Anda mungkin bertanya: Penopang apa dan Penghalang apa?

Karena kita sedang membicarakan saham, penopang dan penghalang yang saya maksud adalah Penopang dan Penghalang harga saham, lebih tepatnya Penopang dan Penghalang gerak harga saham.



Definisi Support dan Resistance

Mengapa disebut Support dan Resistance?

Nah untuk menjawab pertanyaan ini anda harus tahu lebih dulu definisi kedua kata ini dalam konteks main saham.

Menurut John J. Murphy di buku Technical Analysis of The Financial Market (saya intisarikan):

Support is a price level or area on the chart where buying interest is sufficiently strong to overcome selling pressure. Usually a support level is identified by a previous trough.
Support/Penopang adalah titik/kisaran harga pada grafik di mana minat beli cukup kuat untuk mengalahkan tekanan jual. Biasanya titik support adalah lembah sebelumnya
Resistance is a price level or area on the chart where selling pressure is sufficiently strong to overcome buying interest. Usually a resistance level is identified by a previous peak.
Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga pada grafik di mana tekanan jual cukup kuat untuk mengalahkan minat beli. Biasanya titik resistance adalah puncak sebelumnya.

(Kalau anda belum tahu atau sudah lupa apa itu "lembah" dan "puncak" pada grafik saham, silahkan baca pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway.")

Agar anda lebih mudah mengerti, silahkan lihat Figure 1 dan Figure 2 di bawah.

Figure 1. Support dan Resistance Pada Uptrend [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.55]
Figure 2. Support dan Resistance Pada Downtrend [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.56]
 
Definisi Support dan Resistance ala John J. Murphy adalah definisi yang bagus, tapi agak ruwet. Seorang pemula kemungkinan sulit mengerti definisi tersebut, apalagi kalau ia tidak dibantu dengan melihat contoh (visual) di grafik.

Oleh karena itu, berdasarkan Figure 1 dan Figure 2, saya berusaha membuat definisi Support dan Resistance yang lebih sederhana. Menurut saya:

Support/Penopang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun berbalik arah menjadi naik.
Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang naik berbalik arah menjadi turun.

Definisi ala Iyan Terus Belajar Saham ini tidak sempurna. Tapi dengan definisi ini, anda tidak perlu tahu apakah ada minat beli kuat yang mengalahkan tekanan jual; anda juga tidak perlu tahu apakah ada tekanan jual kuat yang mengalahkan minat beli.

Kalau harga turun berbalik arah naik, ini artinya minat beli lebih kuat sehingga mengalahkan tekanan jual. Kalau harga naik berbalik arah turun, ini artinya tekanan jual lebih kuat sehingga mengalahkan minat beli.

Dengan kata lainpada definisi sayaminat beli dan tekanan jual sudah tersirat dari pergerakan harga. Saham yang sedang turun akan berbalik arah naik HANYA kalau minat beli lebih kuat dari tekanan jual; saham yang sedang naik akan berbalik arah turun HANYA kalau tekanan jual lebih kuat dari minat beli.

Nah sekarang kita kembali ke pertanyaan: Mengapa disebut Support/Penopang dan Resistance/Penghalang?

Disebut Support/Penopang karena harga saham yang sedang bergerak turun diTOPANG (di kisaran harga Support) sehingga harga saham tersebut malah berbalik arah menjadi naik.

Disebut Resistance/Penghalang karena harga saham yang sedang bergerak naik diHALANG (di kisaran harga Resistance) sehingga harga saham tersebut malah berbalik arah menjadi turun.

Coba anda cerna dulu kalimat-kalimat di atas sebelum anda melanjutkan baca.

Sudah?

Oke, sekarang kita lanjut ke pertanyaan: apa makna Support dan Resistance bagi pemain saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)."

    Thursday, October 27, 2016

    Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)

    Pos ini adalah lanjutan dari pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)." 


    Setelah membaca pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)" anda sudah tahu bahwamenurut sayabahasa Indonesia Support adalah Penopang, Resistance adalah Penghalang.

    Anda juga sudah tahu definisi Support dan Resistance ala John J. Murphy dan definisi Support dan Resistance ala Iyan.

    Sekarang saatnya saya coba menjawab pertanyaan: apa makna Support dan Resistance untuk pemain saham?


    Makna Support dan Resistance

    Apakah ada gunanya tahu Support dan Resistance?

    Nah, sebelum kita diskusi lebih lanjut, anda perlu tahu bahwa Support dan Resistance adalah salah satu konsep dari Analisa Teknikal. Kalau anda membahas Support dan Resistance, berarti anda sedang membicarakan Analisa Teknikal. (Analisa Fundamental tidak mengenal Support dan Resistance.)

    Jadi, mengapa Analisa Teknikal mempelajari Support dan Resistance?

    Mari kita bahas.

    Anda masih ingat definisi Support dan Resistance ala Iyan? Nih, saya tulis ulang di sini:

    Support/Penopang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun berbalik arah menjadi naik.
    Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang naik berbalik arah menjadi turun.

    Pertanyaan saya untuk anda:

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun akan berbalik arah menjadi naik, kira-kira apa yang akan anda lakukan?

    Coba anda pikirkan.

    Satu lagi pertanyaan saya untuk anda:

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang naik akan berbalik arah menjadi turun, kira-kira apa yang akan anda lakukan?

    Coba anda pikirkan juga.

    Sudah?

    Coba bandingkan jawaban anda dengan jawaban saya di bawah ini.

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun akan berbalik arah menjadi naik, anda SEHARUSNYA membeli saham tersebut di titik/kisaran harga tersebut.

    Mengapa?

    Karena—kalau anda benar—setelah anda beli, saham akan naik dan anda bisa menjual saham tersebut di harga lebih tinggi dan mendapat untung.

    Wow, gumam anda dalam hati.

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang naik akan berbalik arah menjadi turun, anda SEHARUSNYA menjual saham tersebut di titik/kisaran harga tersebut.


    Mengapa?

    Karena—kalau anda benar—setelah anda jual, saham akan turun dan anda bisa (kalau mau) membeli kembali saham tersebut di harga lebih murah. Kalaupun anda tidak niat membeli kembali saham tersebut, anda sudah menjual saham di harga paling tinggi.

    Wow, wow, wow.

    Nahseperti yang sering saya katakanitu teorinya. Prakteknya tidak semudah itu.

    Perhatikan bahwa pada kalimat di atas saya menambahkan bagian "—kalau anda benar—".

    Masalahnya, tidak ada yang tahu PASTI di mana titik/kisaran di mana gerak harga saham akan berbalik arah.

    Hah? Terus gimana dong? teriak anda.

    Tenang, Bro and Sis. 

    Kalau anda sudah baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?" anda tahu bahwa, menurut saya, semua analisa saham, ujung-ujungnya adalah nebak.

    Tapi, kalau anda sudah baca pos "Arti Istilah Saham Trending, Trendless (Bagian II)" anda juga tahu bahwa dengan menggunakan Analisa Teknikal kita bisa menebak apakah gerak saham sedang uptrend, downtrend, atau sideway. Saya tulis juga bahwa di pos tersebut: "Dengan analisa teknikal juga kita bisa menebak apakah gerak saham cenderung akan lanjut atau cenderung berubah arah."

    Nah, dengan Analisa Teknikal jugalah kita akan mencoba menebak titik/kisaran Support dan Resistance suatu saham.

    Apakah mudah?

    Sama sekali tidak. Menebak Support dan Resistance malahan sangat sulit

    Apakah tebakan kita pasti benar?

    Tidak juga.

    Sulit dan tidak pasti benar, gerutu anda. Ngapain dipelajari?

    Karena, walaupun sulit dan belum tentu selalu benar, menebak Support dan Resistancekalau lagi benarakan sangat menguntungkan.

    Tambahan lagi, untuk analis teknikal, titik Support dan Resistance sering dipakai sebagai "execution point" atau titik eksekusi untuk membeli atau menjual saham. Jadi, dengan berusaha menebak Support dan Resistance, anda akan membeli saham di kisaran Support dan menjual saham di kisaran Resistance. Tidak cuma asal-asalan.

    Terus, gimana cara menebak titik Support dan Resistance? tanya anda penuh semangat.

    Sabar, sabar. Jangan keburu nafsu gitu ah. Sebelum kita berdiskusi bagaimana cara menentukan/menebak Support dan Resistance, anda perlu tahu dulu karakteristik dari Support dan Resistance.

    Mari kita lanjut ke karakteristik Support dan Resistance. Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 3)."

      Wednesday, October 26, 2016

      Cara Investasi Saham Jangka Panjang Dengan Analisa Teknikal

      Banyak pemula main saham mengira bahwa satu-satunya analisa untuk investasi saham jangka panjang adalah analisa fundamental.

       Salah.

      Mereka juga mengira bahwa analisa teknikal hanya untuk trading saham jangka pendek.

       Juga salah.

      Memang, kebanyakan investor jangka panjang adalah penganut analisa fundamental. Tapi ini tidak berarti analisa teknikal tidak bisa digunakan untuk investasi saham jangka panjang.

      Tidak percaya?

      Silahkan baca buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Market yang ditulis Stan Weinstein. Di buku ini Stan Weinstein menjelaskan dengan rinci cara investasi saham jangka panjang dengan analisa teknikal.

      Figure 1. Cover Buku Stan Weinstein Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets

      [Catatan: Melihat foto Stan Weinstein di cover buku tersebut, anda mungkin menerka bahwa ini buku jadul. Betul, buku ini pertama kali terbit tahun 1988 dan bisa dikategorikan jadul.  Tapi konsep yang ditawarkan Stan Weinstein tetap relevan untuk saat ini.]


      Filosofi yang diajukan Stan Weinstein adalah sebagai berikut:

      1. Never buy or sell a stock without checking the chart.

      Jangan pernah membeli atau menjual saham tanpa mengecek grafik saham.

      2. Never buy a stock when good news comes out, especially if the chart shows a significant advance prior to the news release.

      Jangan pernah membeli saham ketika keluar berita bagus, terutama bila terlihat di grafik bahwa harga saham sudah naik banyak sebelum berita keluar.

      3. Never buy a stock because it appears cheap after getting smashed. When it sells off further, you'll find out that cheap can become far cheaper!

      Jangan pernah membeli saham karena kelihatannya murah setelah harga saham anjlok banyak. Ketika saham turun lebih dalam lagi, anda akan tahu bahwa yang murah bisa menjadi lebih murah.

      4. Never buy a stock in a downtrend on the chart.

      Jangan pernah membeli saham yang grafiknya downtrend. (Belum tahu arti istilah downtrend? Silahkan baca pos "Arti Istilah Saham Trending Trendless.")

      5. Never hold a stock that is in downtrend no matter how low the price/earnings ratio. Many weeks later and several points lower, you'll find out why the stock is going down.

      Jangan pernah memegang saham yang sedang downtrend tak peduli seberapapun rendah price/earnings ration-nya. [Kalau anda belum tahu arti price/earnings ration, silahkan baca pos "Arti Istilah Price-to-Earnings Ratio."] Beberapa minggu kemudian dan beberapa point lebih rendah, anda akan tahu mengapa saham tersebut turun.

      6. Always be consistent. If you find that you're sometimes buying, sometimes selling in practically identical situations, then there is something terribly wrong with your discipline.

      Selalu konsisten. Kalau anda kadang membeli, kadang menjual pada situasi yang sama persis, berarti ada masalah besar dengan disiplin anda.

      Figure 2. Hal-hal Yang Harus Diperhatikan di Grafik Menurut Stan Weinstein

      Jadi kalau anda ingin investasi saham jangka panjang tapi tidak minat membaca laporan keuangan perusahaan, silahkan pelajari cara investasi saham yang dijabarkan Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets.


        Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 3)

        Pos ini adalah lanjutan dari pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)."

        Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)."

         
        Dari pos sebelumnya anda sudah sudah tahu makna Support & Resistance bagi pemain saham. Sekarang tiba saatnya kita membahas karakteristik Support & Resistance.


        Karakteristik Support & Resistance

        Ada 3 karakteristik Support & Resistance yang penting anda ketahui:


        1. Support & Resistance tergantung pada indikator* yang anda pakai.

        Apa arti dari pernyataan ini?

        Artinya, titik Support & Resistance menurut indikator yang satu akan berbeda dengan titik Support & Resistance menurut indikator yg lain.

        Dengan kata lain, titik Support & Resistance menurut garis Trend akan berbeda dengan titik Support & Resistance menurut Moving Average, berbeda dengan titik Support & Resistance menurut Parabolic SAR, berbeda dengan titik Support & Resistance menurut titik Fibonacci Ratio, berbeda juga dengan titik Support & Resistance menurut Pivot Point. Dan seterusnya.

        Karena beraneka-ragamnya indikator Analisa Teknikal, dan karena masing-masing pemain saham kemungkinan besar memakai indikator yang berbeda, ini berarti pula bahwa—untuk saham PGAS, misalnyatitik Support & Resistance menurut anda kemungkinan besar berbeda dengan titik Support & Resistance menurut saya, berbeda pula dengan titik Support & Resistance menurut analis dari perusahaan broker anda.

        [* Catatan: yang saya maksud "indikator" di sini mencakup tidak hanya indikator Analisa Teknikal pada umumnya tapi juga termasuk price-action (gerak harga), tampilan grafik, skala grafik, dan lain-lain.] 



        2. Support & Resistance tergantung bingkai waktu grafik yang anda pilih.

        Grafik/chart yang paling umum dipakai pemain saham (Indonesia) adalah grafik harian (daily chart). Perlu anda ketahui bahwa selain grafik harian, ada juga grafik dalam bingkai waktu lebih panjang (grafik mingguan/Weekly chart, grafik bulanan/Monthly chart), dan grafik dalam bingkai waktu lebih pendek (misalnya grafik 60-menit/60-minute chart).

        Nah, titik Support & Resistance di bingkai waktu (time frame) yang satu akan berbeda dengan titik Support & Resistance di bingkai waktu yang lain.

        Artinya, titik Support & Resistance di Daily Chart akan berbeda dengan titik Support & Resistance di Weekly Chart, akan berbeda pula dengan titik Support & Resistance di Monthly Chart, akan berbeda pula dengan titik Support & Resistance di 60-minutes chart.

        (Tentang apa manfaat melihat grafik dengan bingkai waktu berbeda akan saya bahas di pos tersendiri di masa depan.)

        Apa pengaruh bingkai waktu pada Support & Resistance?

        Pada umumnya, semakin pendek bingkai waktu yang anda pilih, makin sempit rentang antara Support & Resistance. Contoh: kalau misalkan Support & Resistance jangka pendek KIJA adalah 220 & 235 (rentang Rp 15), Support & Resistance jangka lebih panjangnya bisa jadi adalah 200 dan 260 (rentang Rp 60).



        3. Resistance yang  tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Support; Support yang tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Resistance.

        John J. Murphy di buku Technical Analysis of the Financial Market menyatakan bahwa peralihan peran ini adalah aspek yang sangat menarik tapi tidak banyak diketahui orang.

        (Mungkin pada waktu John J. Murphy pertama kali menulis tentang hal ini, karakteristik ini belum diketahui banyak orang. Tapi untuk sekarang ini, karakteristik ini wajib dipahami semua analis teknikal.)

        Bagaimana Resistance beralih peran menjadi Support? Bagaimana Support beralih peran menjadi Resistance? Sebelum saya menjelaskan hal ini lebih detil, silahkan anda perhatikan dulu Figure 3 dan Figure 4 di bawah ini.


        Figure 3. Resistance Berubah Menjadi Support [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.62]

        Figure 4. Support Berubah Menjadi Resistance [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.62]

        Mengapa Resistance bisa beralih peran menjadi Support?

        Akan lebih mudah dimengerti kalau saya jelaskan dengan ilustrasi.

        Misalkan sudah beberapa kali anda perhatikan bahwa kalau saham WSKT (Waskita Karya) yang anda miliki naik ke harga 600, setelah itu ia berbalik turun. Hal ini anda artikan bahwa Resistance WSKT ada di harga 600.

        Nah, ketika WSKT naik lagi ke harga 600, anda memasang Offer jual di 600. Setelah laku, dasar lagi apes, kali ini WSKT tidak berbalik turun tapi malah terus naik.

        605, 610, 615, 620, 625, 630.

        "Saham sialan," umpat anda ke monitor komputer. "Begitu gue jual, dia langsung naik. Nanti kalau turun ke 600, gue beli lagi deh."

        Keesokan hari WSKT benar turun: 625, 620, 615, 610, 605.

        Anda lekas-lekas memasang order beli (Bid) di 600. Tapi masalahnya, bukan cuma anda yang berpikiran seperti itu. Pemain saham lain yang belum sempat membeli WSKT juga berniat membeli di 600 dan memasukkan order Bid 600. Alhasil, volume Bid di 600 menjadi sangat tebal.

        Anda menunggu sambil berdoa agar order beli anda lekas "match" (terlaksana). Celakanya, sebagian pemain saham lain tidak sabar menunggu. Mereka bersedia membeli lebih mahal sedikit dan mulai membeli di harga 605. Karena aksi beli ini, pemain saham lainnya ikut-ikutan memborong saham ke atas. WSKT bergerak naik lagi: 605, 610, 615, 620, 625, 630.

        Dari ilustrasi ini anda bisa melihat bahwa Resistance WSKT di 600 sekarang beralih peran menjadi Support.


        Bagaimana dengan kebalikannya: mengapa Support bisa beralih peran menjadi Resistance?

        Misalkan juga sudah beberapa kali anda perhatikan bahwa kalau saham BSDE turun sampai ke Rp 1000, setelah itu ia berbalik naik. Hal ini anda artikan bahwa Support BSDE ada di harga 1000.

        Nah, ketika BSDE turun lagi ke 1000, anda memasang order beli di 1000. Banyak juga pemain saham lain yang memasang order Bid di 1000 karena—kalau tebakan anda dan mereka benar—BSDE seharusnya berbalik naik setelah menyentuh harga 1000.

        Beberapa menit kemudian order beli anda "match" (terlaksana). Tapi lagi-lagi masih apes, kali ini BSDE tidak berbalik naik tapi melanjutkan turunnya.

        990, 980, 970, 960, 950.

        Anda kecewa berat karena kondisi anda sekarang rugi.

        Tapi, keesokan harinya, BSDE merangkak naik. 960, 970, 980, 990.

        "Nah, kalau BSDE naik ke 1000," pikir anda,"akan gue jual saham tolol itu. Rugi fee biarin dah, daripada rugi lebih banyak lagi."

        Berdasarkan niat tersebut, Anda memasang jual (Offer) di 1000. Masalahnya, bukan cuma anda yang berpikir seperti itu; pemain saham lain yang membeli BSDE di 1000 juga berpikiran sama: mereka juga memasang Offer jual di 1000. Alhasil volume Offer di 1000 sangat tebal.

        Anda menunggu sambil berdoa agar BSDE anda lekas laku. Celakanya, sebagian pemain saham lain tidak sabar menunggu. Mereka bersedia rugi sedikit dan mulai menjual di harga 990. Karena aksi jual ini, pemain saham lainnya ikut-ikutan menjual ke bawah. BSDE bergerak turun lagi: 990, 980, 970...930.

        Dari ilustrasi di atas, anda bisa lihat bahwa Support BSDE di 1000, sekarang beralih peran menjadi Resistance.

        Nah, sekarang anda sudah tahu bahwa Resistance yang  tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Support dan Support yang tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Resistance. Tapi hal yang lebih penting anda pahami adalah implikasi/pengaruh karakteristik ini bagi anda sebagai pemain saham.

        Apa pengaruh karakteristik ini bagi pemain saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakterstik (Bagian 4)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]

          Tuesday, October 4, 2016

          Hubungan Indikator Analisa Teknikal Dengan Harga Saham

          Pada tanggal 05 Juli 2014, bung Herlambang bertanya di pos "Arti Istilah 'Saham Bonus'":
          2. "...grafik tengah ada keterangan garis lurus stochastic %K, garis putus-putus stochastic %D. Sy perhatikan jika garis stochastic %K dan %D berpotongan dan naik, maka selalu naik terus, apakah disitu berarti saatnya beli ? dan jika garis stochastic %K dan %D berpotongan dan turun, maka selalu turun terus, apakah disitu berarti saatnya jual ?"
          Figure 1. Chart AAPL with Stochastics (%K%D). [Source: finance.yahoo.com]

          Ini adalah pertanyaan yang bagus karena tersirat bahwa bung Herlambang berusaha mencari korelasi (hubungan) antara indikator analisa teknikal Stochastics dengan gerak harga saham.

          Saya sudah menjawab pertanyaan tersebut di pos "Arti Istilah 'Saham Bonus'", tapi saya merasa topik ini penting untuk didiskusikan lebih detil dalam pos tersendiri.

          Mari kita mulai.

          ---0---

          Benar bahwa kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, biasanya garis %K lanjut naik.

          Juga benar bahwa kalau garis Stochastic %K memotong ke bawah %D, biasanya garis %K lanjut turun.

          Masalahnya, mayoritas pemain saham mengambil kesimpulan yang SALAH bahwa:
          • kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, maka garis %K selalu lanjut naik.
          • kalau garis Stochastic %K memotong ke bawah %D, maka garis %K selalu lanjut turun.

          Kenapa kesimpulan ini salah?

          Sebelum kita lanjut, saya perlu mengingatkan anda bahwa hampir SEMUA indikator analisa teknikaltermasuk Stochastics—adalah hasil perhitungan matematis data harga (atau volume) masa lalu. Pada kasus stochastics, stochastics akan naik kalau harga naik; stochastics akan turun kalau harga turun.

          Nah, dari pernyataan "kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, maka garis %K selalu lanjut naik" tersirat bahwa karena Stochastics naik berarti harga akan naik.

          Dengan kata lain, pada pernyataan tersebut tersirat hubungan sebab-akibat sebagai berikut: Sebab Stochastics naik, akibatnya harga saham naik.

          Ini tidak masuk akal karenaseperti saya sebutkan di atas—perhitungan matematis Stochastics didapatkan dari harga. Jadi, tidak mungkin Stochastics yang mempengaruhi harga. Apalagi mempengaruhi harga saham di MASA DEPAN.

          Intinya, HARGA sahamlah (di masa lalu dan saat ini) yang membentuk Stochastics.

          Jadi hubungan sebab-akibat yang benar adalah:
          • Sebab harga naik, akibatnya Stochastics naik.
          • Sebab harga turun, akibatnya Stochastics turun.


          Hubungan sebab-akibat ini penting anda ketahui dan resapi karena banyak pemain saham kecewa dengan analisa teknikal karena mereka mengharapkan prediksi yang ABSOLUT dari indikator analisa teknikal yang mereka gunakan.

          Padahal sudah saya tulis dengan gamblang di pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)":

          Prinsip Keempat: Prediksi dari analisa teknikal bersifat TIDAK absolut.
          Tidak absolut? Kok begitu?
          Artinya, hanya karena analisa teknikal memberi sinyal bahwa saham akan naik, tidak berarti saham tersebut harus naik. Analisa teknikal (seperti juga analisa fundamental dan analisa-analisa lainnya) bersifat prediksi atau, dengan kata lain yang lebih gamblang, nebak. Intinya, ketika kita menebak, tebakan kita bisa salah.
            
          Pesan moral pos ini: 
          • Semua indikator analisa teknikal adalah perhitungan matematis dari harga (atau volume) saham. 
          • Indikator analisa teknikal TIDAK mempengaruhi naik-turunnya harga saham.
          • Harga sahamlah yang mempengaruhi naik-turunnya indikator analisa teknikal.
          • Indikator analisa teknikal tidak mungkin salah.
          • Prediksi anda berdasarkan indikator analisa teknikal BISA salah.
          • Jadi, jangan menyalahkan indikator analisa teknikal kalau harga saham bergerak berlawanan dengan terkaan anda.

          "Oke," kata anda. "Tapi mengapaseperti bung Iyan tulis di atas kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, biasanya garis %K lanjut naik. Kebalikannya, bahwa kalau garis Stochastic %K memotong ke bawah %D, biasanya garis %K lanjut turun. Bagaimana penjelasannya?"

          Tentu saja ada penjelasan yang masuk akal untuk itu. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Mengapa Stochastics Yang Naik Biasanya Lanjut Naik; Yang Turun Biasanya Lanjut Turun?" [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]"